TENTANG DZIKIR DAN CIRI-CIRI HATI YANG MATI

  • Hj. Aisyah Nurlaela , S.Pd (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2017-03-30 17:00:00 - Kategori : BERITA

    TENTANG DZIKIR DAN CIRI-CIRI HATI YANG MATI

     

     

    Edisi pengajian  Kitab Alhikam

    TENTANG DZIKIR DAN CIRI-CIRI HATI YANG MATI

                    Sabtu, 11 Februari 2017, dilaksanakan pengajian kitab Alhikam di Masjid Annisa di lingkungan SMP Islam Cendekia Cianjur, agenda sekolah yang rutin dilaksanakan ini, dihadiri oleh seluruh PTK yang  tidak berhalangan untuk hadir di setiap hari sabtu. Hal ini tentu saja merupakan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan oleh seluruh PTK, karena pada moment  inilah seluruh PTK dapat melaksanakan ibadah, baik mahdoh maupun Ghoir mahdoh di lingkungan sekolah tanpa dibebani pekerjaan harian yang menumpuk, kegiatan ini juga bisa dijadikan sebagai ajang silaturrahim, taqorrub kepada Allah melalui riyadhoh dzikir  dan relaksasi ,melepas kepenatan setelah sepekan melaksanakan tugas dan kewajiban di sekolah.

                    Pengajian kitab Alhikam kali ini seperti biasa dipimpin oleh Bapak  Ustadz K.H. Ghazali Rahman, S.Pd.I. dalam ceramahnya yang digali langsung dari sumber yaitu kitab Akhikam, beliau membahas tentang Dzikir. Dzikir yang biasa kita laksanakan sehari hari secara umum berasal dari kata dzakaro yang berarti ingat kepada Allah.

    Dzikir atau adzikru itu sendiri terdiri dari dua macam yaitu:

    1. Dzikir Muqoyyad Bilwaqti

    Dzikir Muqoyyad bilwaqti artinya dzikir tertentu dan terikat oleh waktu, seperti  dzikir yang dilaksanakan setiap ba`da sholat fardhu, contohnya pembacaan  istighfar (Astaghfirullohal `adzim), tasbih (subhaanalloh), tahmid (Alhamdulillah), Takbir ( Allohu akbar), dan tahlil (Laa ilaaha Illalloh). Hal ini diperkuat oleh firman Allah dalam Alqur`an surat Annisa ayat 103 yang berbunyi : Faidza qodoitum fadzkurullooha qiyaamanwwaqu`udawwalaa junubikum, faidzath manantum fa`aqiimushsholaata. Innashsholaata kaanat alal mu`miniina kitaabammauquuta .yang artinya: maka apabila kamu telah menyelesaikan sholatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring, kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah sholat itu ( sebagaimana biasa) sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

    1. Dzikir Ghoir Muqoyyad

    Dzikir Ghoir Muqoyyad  adalah dzikir yang tanpa terikat oleh waktu, jadi dzikir ini bisa dilakukan kapan saja. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Alqur`an surat Al Ahzab ayat  41-42  yang berbunyi : Yaa Ayyuhalladziina aamanudzkurullooha dzikron katsiron (41), wasabbihuu hu bukrotanwwaasiila (42) yang artinya : hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya (41), dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dengan demikian, dzikir Ghoir muqoyyad  bisa dilakukan kapan saja, baik di waktu pagi, siang, sore dan malam hari, dan juga bisa dilakukan di mana saja, entah itu di rumah, di masjid, di tempat bekerja,  atau ketika dalam perjalanan. Dzikir ini pun bisa dilakukan dalam keadaan duduk, berdiri, berjalan, berbaring, bahkan ketika mata terpejam menjelang tidur pun harus selalu berdzikir atau ingat kepada Allah, walaupun hanya berucap Alloohu…Alloohu dan sebagainya.

    Terkait dengan masalah dzikir, ada hadits soheh yang diriwayatkan oleh sohih Muslim yang berbunyi “ An Abi Hurairota R.A,    an Rosulullah SAW, Qola : man sabbahalloha fiiduburi kulli sholaatin tsalasan watsalasiina, wahamidalloha tsalaasan watsalasina, wakabbarolloha tsalasan watsalaasina, waqola tamaamal mi`ati laailaaha illalloh, wahdahu laa syariikalahu,lahulmulqu walahulhamdu wahua alaa kulli syai`in qodir, gufirot khotooyahu, wainkaanat mitsla jabadil bahri, yang artinya: Dari Abu Hurairoh R.A, berkata, Rosululloh SAW bersabda: barangsiapa berdzikir ( membaca tasbih, setelah melaksanakan sholat, 33x, hamdallah33x, takbir 33x, dan disempurnakan dengan tahlil,  maka dia akan di1uni dosanya oleh Allah, walaupun dosanya sebanyak buih di lautan (H.R  soheh Muslim).

                   

     

     

    Demikianlah keutamaan dzikir tersebut ternyata sangat besar sekali, hingga selanjutnya masih dalam kitab Alhikam disebutkan “ Janganlah kamu meninggalkan dzikir, baik dzikir muqoyyad bilwaqti, maupun ghoir muqoyyad, dengan alasan karena kita belum bisa khusu( tidak bisa menghadirkan hati hanya karena Allah), karena dzikir dengan tidak khusu itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

    Masih dalam penjelasan Akhikam, selanjutnya membahas tentang ciri-ciri hati yang telah mati .

    Maka inilah sebagian ciri-ciri hati yang mati:

    1. Tidak merasa sedih atau prihatin ketika ketinggalan suatu kebaikan/ ketaatan.

    Artinya jika kita tertinggal oleh orang lain dalam melaksanakan kebaikan, misalnya berjamaah sholat fardhu di masjid, kita harus masbuk tertinggal satu roka`at tidak merasa sedih/prihatin, tertinggal dua rokaat biasa saja, tertinggal tiga rokaat, biasa saja, bahkan tertinggal empat rokaat s1ai tidak berjamaah sama sekali, hati ini biasa saja, dan bahkan tidak sholat di masjid dengan orang lain sama sekali, dengan dalih masih banyak waktu, karena masih banyak pekerjaan, hati ini biasa saja, nah dengan tidak prihatin nya kita karena ketinggalan kegiatan atau kebaikan tersebut, merupakan ciri-ciri bahwa hati kita telah mati. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain yang tidak bisa semuanya diuraikan disini.

    1. Tidak meninggalkan penyesalan (tidak menyesal)  ketika tertinggal suatu kebaikan.

    Sama halnya dengan contoh di atas, apabila kita tidak merasa menyesal dengan tertinggalnya sholat berjamaah, maka itu merupakan salah satu tanda atau ciri-ciri bahwa hati kita telah mati.

    1. Tidak menyesal  apabila melakukan maksiat.

    apabila kita tidak menyesali perbuatan maksiat, bahkan kita merasa bangga terhadap maksiat, maka berhati-hatilah! Karena itu merupakan salah satu ciri-ciri hatiyang telah mati.

     

    Kebalikan dari hati yang telah mati, maka ada pula hati yang hidup, artinya hati yang dihidupkan oleh Allah dengan cahaya keimanan, maka inilah ciri-ciri hati yang hidup:

    1. Merasa bahagia ketika melaksanakan sholat.

    Mungkin diantara sebagian dari kita ada yag sudah merasakan nikmatnya sholat, bahkan ada yang sudah merasakan butuh terhadap sholat, namun tidak sedikit pula, diantara kita yangbelum merasakan nikmatnya sholat, hal ini memang manusiawi dan perlu adanya ketekunan, keikhlasan, dan istiomah dalam menjalankan semua kewajiban agar senantiasa suatu saat ,kita akan meraskan yang namanya nikmat atau lezatnya sholat dan dzikir.

    1. Prihatin ketika meninggalkan ibadah.

    Salah satu ciri –ciri Orang yang hidup hatinya adalah merasa prihatin apabila meninggalkan ibadah, misalnya ketinggalan berjamaah sholat, tidak puasa di hari-hari yag disunatkan untuk berpuasa, tidak bersedekah, tidak menolong orang lain, dan lain sebagainya.

    Terakhir Pa Ustadz mengajak kepada seluruh jamaah yang hadir untuk senantiasa tidak pernah bosan dalam latihan berdzikir (riyadhoh dzikir). Acara pengajian hari itu pun ditutup dengan riyadhoh dzikir dengan khusu`.

     

    Demikian artikel ini, mudah-mudahan bermanfaat, baik bagi penulis khususnya dan semua warga belajar di lingkungan SPM Islam Cendekia Cianjur pada umumnya, bahkan semua pembaca website ini.

    Mudah-mudahan dengan latihan(riyadhoh dzikir) yang sering kita laksanakan di setiap ba`da sholat fardhu dan di setiap pengajian, menjadikan tali silaturrahim kita semakin erat, dan yang paling utama mudah-mudahan membuat hati kita menjadi hidup supaya kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan lebih mendekatkan diri kepada Allah, bahkan suatu saat tidak terasa kita akan merasakan lezatnya sholat dan dzikir dengan sendirinya tanpa ada paksaan atau harapan lain selain karena Allah semata. (Februari 2017, Aisyah Nurlaela)

    Sumber: Kitab Alhikam karangan lil alim al alamah walhibrul Bahril Fuhaamah

    Tarjamah Alqur`an

    kitab Al Adzkar annawawiyah karangan al imam Al faqih alhadits Muhidin Jakariya