EDISI PENGAJIAN KITAB ALHIKAM

  • Ridho Hamzah, M.Pd. (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2017-03-30 17:00:00 - Kategori : BERITA

    EDISI PENGAJIAN KITAB ALHIKAM

    MANAJEMEN QOLBU

    (Hati-hati dengan hati kita)

    Sabtu, 25 Maret 2017, seperti biasa diadakan pengajian untuk para guru dan seluruh PTK SMP Islam Cendekia Cianjur. Seluruh guru dan tenaga pendidik tidak mau ketinggalan untuk mengikuti agenda yang diadakan setiap akhir pekan ini. Tidak ketinggalan seluruh jajaran yayasan dan kepala sekolah juga mengikuti kegiatan rohani ini.

    Pengajian dimulai pukul 7.30 s1ai pukul 9.00. seperti biasa pengajian dimulai dengan pembacaan  surat alfatihah dan do`a wirdu Al-syakron, kemudian dilanjutkan dengan penggalian materi  kitab alhikam.

    Materi pengajian yang digali langsung dari kitab alhikam kali ini membahas tentang hati, yang pada sabtu sebelumnya dibahas topik yang sama yakni tentang ikhlas, yang berhubungan juga dengan hati.

    Menurut Imam Ghazali, hati itu terbagi dua, berbentuk fisik dan ruhani atau bathiniyah. Hati secara fisik, seperti yang kita ketahui berupa segumpal daging atau otot sama seperti halnya organ tubuh yang lain seperti jantung, ginjal, dan organ tubuh yang lainnya, tetapi hati memiliki fungsi lain selain alat kerja organ tubuh, karena ia memiliki ruhaniyah atau bathiniyah.

    Hati bisa menjadi parameter ketakwaaan kita kepada Allah SWT, karena dari hatilah segala sesuatu yang kita kerjakan berasal, juga berkoordinasi dengan akal pikiran. Namun lebih jauh Pa ustadz menjelaskan bahwa kita harus berhati-hati dengan hati, karena hati kadang-kadang bisa menghadap atau kadang-kadang membelakangi, artinya terkadang kita mau beribadah atau melakukan sesuatu kebaikan, kadang-kadang juga kita membangkang atau melanggar sesuatu perintah Allah, itu manusiawi atau qodrat nya manusia memang seperti itu.

    Hal ini bisa dimaklumi karena iman manusia itu termasuk iman maqbul, artinya iman yang kadang-kadang menurun, dan kadang-kadang menanjak atau naik, tidak seperti  iman nya malaikat yang stabil tidak pernah turun ataupun naik. Maka yang menggerakan iman seseorang adalah hatinya.

    Namun demikian perlu kita sadari bahwa yang menggerakan hati seseorang untuk berbuat baik ataupun jahat hakikatnya adalah Allah, jika sseseorang tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu kebaikan, maka yakinlah bahwa Allah sedang menggerakan hatinya melaui warid, atau nur atau pertolongan atau biasa juga disebut dengan hidayah.

    Maka alangkah sombongnya seseorang apabila dalam setiap kegiatan terutama dalam beribadah atau melakukakan suatu kebaikan, dia tidak ingat kepada Allah dan tidak bersyukur kepada Allah, karena hakikatnya tergeraknya hati untuk mau beribadah kepada Allah adalah kenikmatan yang tiada tara.

    Lebih lanjut dalam kitab Alhikam disebutkan bahwa yang disebut bahagia itu ada 2 macam yakni:

    1. Bahagia Mazmum, yaitu merasa bahagia bahwa ketaatan kita kepada Allah tersebut karena diri sendiri bukan karena Allah, misalnya kita mengerjakan sholat, kemudian bahagia bahwa kita telah taat kepada Allah, tetapi kita tidak sadar bahwa yang membuat kita taat tersbut adalah kehendak Allah.
    2. Bahagia Mahmud, artinya merasa gahagia atas ketaatan kita kepada Allah, tetapi kita ingat dan menyadari bahwa ketaatan kita tersebut semata-mata adalah karena irodah nya Allah atau atas kehendak Allah, Allah lah yang menggerakan hati  kita untuk beribadah (to`at).

    Jikalau kita tidak menyadari dan tidak mengakui bahwa bisa ibadahnya kita, to`atnya kita kepada Allah adalah atas hidayah Allah, maka kita bisa tergolong ke dalam golongan orang yang sombong, karena lebih lanjut dikatakan bahwa orang yang sombong itu, bukan hanya  orang yang suka menyombongkan diri atas hartanya, jabatannya, keluarganya, kastanya, dan rupanya, tetapi  orang juga bisa menyombongkan ibadahnya, baik di hadapan sesama manusia maupun di hadapan tuhannya yakni menyombongkan diri bahwa ibadahnya, to`atnya adalah atas kehendak diri sendiri bukan hidayah Allah SWT, Naudzubillahimindzallik.

                    Dengan demikia, menjaga hati kita dari sifat sombong itu penting sekali, dengan selalu minta pertolongan kepada Allah, supaya kita terhindar dari sifat tersebut, dan yang  lebih penting, hal yang mungkin kita anggap sepele adalah selalu bersyukur atas segala limpahan nikmat dari Allah, baik nikmat duniawi dan ukhrowi, nikmat harta, tahta/jabatan, kemerdekaan, kesehatan, dan ketentraman, dan yang paling penting adalah kita harus mensyukuri nikmat iman dan islam serta nikmat hidayah yang telah diberikan kepada Allah untuk selalu nikmat dalam beribadah dan beramal sholeh, termasuk untuk mengikuti pengajian kitab dan membaca  artikel ini.

     

                    Terakhir, marilah kita selalu berlindung kepada Allah untuk diberikan keikhlasan dalam beribadah dan selalu bersyukur atas segala kenikmatan terutama nikmat iman, islam dan nikmat nya ibadah, tak lupa terimakasih kepada Bapak Ustadz Ghazali  Rahman, yang tak pernah bosan mengajak kita ke dalam kebaikan dan membacakan kitab Alhikam untuk kita semua, semoga kebaikannya dibalas oleh Allah, dan selalu diberikan kesehatan, dan semoga beliau ataupun kita menjadi wasilah untuk kebahagiaan nanti di yaumul jazaa, aamiin yaa Robbal Alamiin. ( Aisyah Nurlaela )