KURTILAS? SIAPA TAKUT?

  • Akhri. R (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2014-10-28 17:00:00 - Kategori : BERITA

    KURTILAS? SIAPA TAKUT?

    Oleh : Hj. Aisyah Nurlaela , S.Pd

                    Tak terasa tahun ajaran 2014-2015 sudah pertengahan semester, artinya triwulan pertama sejak dimplementasikan dan direalisasikannya kurikulum yang spektakuler dan menjadi perbincangan para pendidik dan peserta didik yakni kurikulum 2013 atau biasa dikenal  bahasa kerennya sebagai akronim KURTILAS sudah berjalan mengalir seperti air.

                    Banyak di antara para pendidik yang dibuat pusing tujuh keliling dengan adanya  realisasi dan implementasi kurtilas,apa yang sebenarnya membuat pusing  para pendidik bisa dimaklumi,karena  memang  walaupun sudah diadakan implementasi yang waktunya terlalu singkat sedangkan materi terlalu banyak, ditambah lagi dengan  ketentuan dalam pembuatan RPP,yang agak berbeda dengan kurikulum sebelumnya,mengakibatkan kita  harus benar-benar beradaptasi dulu sebelum realisasi,satu hal lagi ada  yang  berbeda  dengan kurikulum sebelumnya, dimana perbedaan yang paling mencolok,walaupun di kurikulum sebelumnya juga ada,yaitu dalam penilaian yang mengharuskan adanya penilaian sikap sosial, spiritual dan sebagainya yang mana penilaian tersebut dinilai di setiap kompetensi dasar, dan setiap penilaian membutuhkan waktu, tenaga, kejelian, kedekatan dengan siswa, pengenalan karakter siswa ,keter1ilan dan kepiawaian guru dalam membuat format , dan yang lebih dahsyat nya lagi penggunaan hardcopy yang pasti menumpuk, bayangkan saja satu kali penilaian diri untuk satu orang siswa dibutuhkan dua s1ai tiga lembar kertas kwarto atau kertas HVS, kalau saja satu kelas berjumlah 30 orang, bisa dihitung berapa kertas yang dipakai dalam satu kali penilaian diri, belum lagi penilaian antar teman yang rata-rata h1ir sama menggunakan  dua s1ai tiga lembar kertas, tidak apa-apa !itu hal yang positif! Asal kita harus bisa lebih jeli lagi dalam membuat format supaya lebih meminimalisir penggunaan kertas demi menjaga dari kemubadziran( innal mubadziriina kaana ikhwaanasysyayatin).

                    Alhamdulillah seiring berjalan nya waktu, kita menjalankannya dengan penuh rasa tanggung jawab, ternyata memang banyak keuntungan, kebaikan dan hikmah yang bisa kita ambil dari kurtilas ini,” LAA TAHZAN INNALLOHA MA ANA” jangan takut , Allah senantiasa bersama kita, man jadda wajada!! Siapa yang sungguh-sungguh, insya allah berhasil, begitupun dengan hal yang baru seperti kurtilas ini, kalau kita terus saja berpaling ke belakang,menyesali hal yang telah lalu kita tidak akan maju, marilah kita berpositif thinkking!, ambil hikmah dari yang ada.OK, kurtilas? Siapa takut! Ayo sama – sama pelajari dan jalankan!

     

    KURTILAS, POSITIF DAN NEGATIF

                    Setiap perubahan pasti ingin mengarah ke arah kebaikan dan kesempurnaan, di momen spesial seperti sekarang ini, bertepatan dengan tanggal 1 muharam ,tahun baru hijriah ,marilah kita luruskan niat, baguskan niat, dan kuatkan niat kita mengikuti sunnah rasul agar apa yang kita kerjakan mendapat  fahala ,ridlho, dan maghfiroh allah SWT,kita berniat hijrah dari yang baik ke arah yang lebih baik dan mudah-mudahan yang terbaik!, walaupun kita tahu, di dunia ini tidak ada yang sempurna, semua fana artinya rusak,begitupun dengan kurikulum yang menjadi patokan kita dalam mengajar, selalu ada perubahan di setiap periode nya, hal ini tiada lain demi untuk  meningkatkan kualitas /mutu pendidikan di negara kita tercinta ini.walau demikian tentu saja ada sisi negatif dan positifnya yang mana mudah-mudahan kita bisa memupuk hal-hal yang positif semakin baik dan meminimalisir yang negatif ,memperbaiki dan menjadikan bahan diskusi yang menguntungkan bukan menjadi perdebatan ,pergujingan bahkan jangan s1ai saling menyalahkan satu sama lain.

     

    HAL – HAL POSITIF

    1. Guru  lebih kreatif

    Dengan beragamnya  metode pembelajaran, seperti discovery learning dan sebagainya, hal ini menuntut tenaga pendidik untuk lebih aktif dan kreatif lagi dalam mengembangkan pembelajaran agar tidak membosankan seperti pada metode ceramah.

    1. Guru lebih dekat dengan peserta didik

     dengan adanya penilaian sikap, menuntut guru untuk lebih mengenal karakter siswa lebih dekat lagi

    1. Model pembelajaran bervariasi

    Hal ini menguntungkan bagi peserta didik karena pelajaran yang kita s1aikan tidak membuat mereka borin atau menjenuhkan.

    1. Siswa lebih disiplin

    Dengan adanya sosialisasi penilaian sikap, diantaranya penilaian kejujuran, tanggung jawab,disiplin, kerja sama, santun ,dan sebagainya, hal ini membuat siswa lebih disiplin dan mawas diri .

    1. Siswa lebih aktif dan kreatif, ter1il,dan bertanggung jawab

    Dengan beragam nya metode pembelajaran dan penilaian keter1ilan, yang menuntut siswa untuk lebih aktif berdiskusi ,bersosialisasi, dan presentasi,(mengamati,bertanya,mengasosiasi,dan mempresentasikan),siswa semakin kreatif mencari informasi baik dari media cetak,audio visual, maupun internet.

    1. Bukan hanya IQ,tpi juga Eq dan  SQ

    Penilaian tidak hanya terfokus pada kognitif atau knowledge saja,atau dengan kata lain, bukan hanya IQ(intelelligent quation)saja yang dinilai ,tapi juga dengan SQ (social quotion)dan EQ(emosional Quotion)

    Hal inimenguntungkan bagi siswa yang dalam knowledge ataukognitif nya kurang, tetapi sikap sosial nya baik, bisa menjadi nilai plus dn menjadi kebanggaan orangtua

    1. Penilaian yang adil dan merata

    Dis1ing kita sebagai pendidik jadi lebih tau karakter siswa,bahkan kata salah seorang teman saya di MGMP sub rayon 4  Cianjur mengatakan saking mendetailnya penilaian sikap di kurtlilas, kita semakin tahu karakter anak, bahkan bau badan nya pun kita tahu,dan harrrus tahu!! (gerrr... semua peserta MGMP ) ini menjadi salah satu kesempatan bagi anak yang agak kurang dalam segi kognitif untuk mengembangkan potensi dirinyanya selain ilmu pengetahuan.

    1. Memperluas wawasan

    karena tidak hanya berfokus hanya pada satu sumber saja, hal ini dapat memperluas wawasan pendidik dan peserta didik.

    1. Mempererat tali silaturrahim antara guru, siswa, sekolah, dan orangtua
    2. Penilaian sikap menggiring siswa untuk menjadi takwa

    Secara tidak langsung, kalau kita mengadakan penilaian secara kontinyu, secara wajar dan berkesinambungan , otomatis ruang gerak siswa benar-benar terkontrol dan terpantau oleh masing-masing guru mata pelajaran, dengan demikian, bukan hanya guru PAI atau guru PKN saja yang bisa menilai sikap anak, guru mapel lain pun bisa membuat mereka menjadi seperti harapan kita yaitu menjadikan mereka anak yang berprestasi, berkarakter baik, sholeh, dan taqwa, misalnya kita tanamkan dan tekankan sikap jujur, dengan pemantauan terus menerus, akhirnya anak terbiasa dengan penilaian ini, akhirnya mereka pun terbiasa bersikap jujur, yang mudah-mudahan hal ini tertanam di diri mereka bukan hanya untuk masa penilaian saja seperti sekarang, namun kita harapkan sikap jujur, disiplin, sopan santun, tanggun jawab,kerja sama, toleransi, percaya diri dan sikap spiritual lainnya terpatri dan tertanam mulai sekarang hingga nanti .

     

    Dan masih banyak lagi segi positif dari kurtilas yang bisa kita gali dan kita temukan seiring berjalannya waktu, kita tempuh sambil kita sama-sama belajar, menggali potensi dan mengembagkan bakat kita dan bakat peserta didik, melalui kurtilas ini.

     

    SISI NEGATIF

     

    Tidak banyak sisi negatif dari kurtilas, tinggal kita pandai –pandai saja menyiasati nya,kita minimalkan pemborosan  terutama dalam pemakaian kertas,juga kita harus pandai-pandai dalam menyiasati pemberian tugas yang diberikan kepada siswa, terutama yang berhubungan dengan browsing ke internet, karena anak didik jaman sekarang disuruh browsing memang itu mauya anak-anak,persempit ruang geraknya di internet dengan cara memantau nya terus ketika sedang berselancar di  internet,karena alih-alih mengerjakan tugas, kalau kita melek sedikit saja, mereka berselancar di dunia maya.

     

    Akhirnya, saya ucapkan selamat tahun baru islam 1 muharram 1436 H, marilah kita hijrah ke arah yang lebih baik lagi,terutama dalam hijrah nya kita ke kurikulum baru ini, membuat kita lebih baik lagi, niat yang suci mencerdaskan anak bangsa , semoga mereka menjadi wasilah buat kita di yaumil jazaa nanti dengan memberi setitik ilmu pengetahuan, tak lupa selipkan disela-sela pelajaran kita ,tanamkan ahlak yang mulia yang menuntun mereka bukan hanya mendapatkan nilai yang baik di dunia, tapi baik juga di akhirat kelak, mumpung kita difa silitasi oleh kurtilas dengan adanya penilaian akhlak/ sikap insya allah kalau kita membuatnya taqwa, mereka tak kan melupakan kita, di dunia dan akhirat, amiin.

     

    Demikian artikel saya semoga bermanfaat

    (Hj.Aisyah Nurlaela ,guru mapel B. Indonesia di SICC)

    EMAIL, aisyahnurlaela37@gmail.com