ISTIQOMAH IS THE BEST

  • SitiMaya (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2016-10-02 17:00:00 - Kategori : BERITA

    ISTIQOMAH IS THE BEST

     

                Seperti biasa ketika datang waktu shalat dzuhur berjamaah,  santriyah  datang berduyun-duyun ke masjid Annisa yang megah, indah, dan penuh berkah. Mereka datang lengkap dengan balutan mukena yang telah di pakai mulai dari asramanya masing-masing. Ada pula yang datang masih berseragam putih biru dan baru mengambil wudlu di sana. Mereka mungkin baru selesai dari kegiatan belajar dan langsung menuju masjid. Sejuk rasanya melihat pemandangan yang begitu indah dan cipratan air wudlu mereka menambah kesejukan suasana. Wajah-wajah segar dengan kucuran air wudlu dan langsung melafalkan doa setelahnya. Wajah-wajah yang polos berlomba dan bergegas menuju shaf tanpa terlintas rasa enggan dalam memenuhi panggilan Rabb-nya. Begitu pun para santri tak ketinggalan datang bergegas menuju masjid dari pintu yang berbeda berharap berada di shaf paling awal tetunya. Sebagian sudah berada di shaf pertama, tentu saja mereka yang ketika adzan belum berkumandang pun sudah bergegas menuju masjid. Subhaanalloh kelak insya Allah wajah yang terang bagai cahaya matahari. Sebagian di antaranya ada yang sudah terbiasa melakukan shalat tahiyyatul masjid, ada yang hanya duduk-duduk saja, ada yang melanjutkan tadarrus Alqur`an, tak ketinggalan para ustadz dan ustadzah serta seluruh warga sekolah mulai dari  jajaran yayasan  s1ai OB  berkumpul duduk bersimpuh dalam ruku dan sujud bersama-sama. Keadaan seperti ini biasa dilakukan setelah h1ir semua berkumpul sambil menunggu iqomah dan menunggu yang lain datang dengan melakukan sholawatan. Sholawat inilah yang selalu dikumandangkan dan menjadi ciri khas yang membuat kami betah berlama-lama di masjid. Ketika terdengar Shalawat di mana pun berada, sepintas saja langsung mengingatkan kita pada Masjid Annisa. Mengapa bisa seperti itu, karena kebiasaan ini memang dilakukan secara istiqomah (terus-menerus). Dari situ kita dapat mengambil hikmah bahwa segala sesuatu yang dilakukan secara istiqomah atau kontinu, sekecil apapun kegiatannya atau pekerjaannya, insya Allah akan membuahkan hasil yang maksimal. Orang akan selalu mengenang kita dengan kekhasannya. Orang juga akan selalu ingat tatkala suatu karakter yang melekat pada diri kita. Bercermin dari kumandang khas shalawat di Masjid Annisa ini, terbersit di hati kita (khususnya penulis) untuk melakukan hal yang istiqomah, yang teratur, yang kontinu. Sekecil apapun itu, karena Allah sungguh mencintai pekerjaan yang istiqomah dan dawam (rutin dilakukan). Sehingga apapun yang kita lakukan tentu saja hal yang baik, positif, dan jangan lupa ikhlas karena Allah, bukan karena ingin mendapat pujian dari mahluk semata.

                Teringat salah satu kisah sahabat rasul sayyidina Umar bin khotob, ra. Beliau merupakan salah satu sahabat yang mempunyai  kebiasaan keluar rumah di malam hari hanya untuk mengetahui dan memastikan keadaan rakyat atau ummatnya. Bagaiman keadaan ummatnya sehari-hari dapat beliau tinjau langsung tanpa memperlihatkan identitas atau atribut beliau sebagai seorang kholifah. Beliau seorang panglima perang, seorang kholifah yang disegani. Allah saja memuji beliau sebagai panglima perang yang gagah berani. Sering sekali beliau keluar tengah malam dengan menanggalkan atribut beliau sebagai seorang kholifah dengan menyamar seperti rakyat biasa tanpa pengawal beliau berkeliling k1ung menyusuri setiap lorong-lorong untuk mengetahui secara langsung keadaan umatnya baik ekonomi maupun kebiasaan sehari-harinya dalam berintaraksi sosial maupun keagamaan. Kalau sekarang dikenal istilah blusukan, hanya tentu saja blusukan-nya sayyidina Ummar tidak diringi pengawalan yang ketat dan tanpa kilatan cahaya kamera. Suatu malam beliau menemukan sebuah rumah yang di dalamnya terdapat tangisan-tangisan anak kecil yang ketika beliau selidiki ternyata anak-anak tersebut menangis karena kelaparan. Setelah diselidiki, diketahui bahwa ibunya sedang memasak batu hanya untuk membuat anaknya diam dan tertidur pulas karena kecapean menangis. Hal itu tentu saja dilakukan dengan terpaksa oleh ibunya karena tidak ada makanan yang bisa dimasak karena miskin dan sebatangkara. Subhanalloh bukan main terharunya sayyidina Umar. Pada saat itu pula beliau bersama pengawal membawakan makanan berupa gandum dan beliau sendiri yang memikul sekarung gandum tersebut. Bahkan beliau memasaknya untuk anak-anak yang malang itu. Inilah kebiasaan baik sayyidina Umar yang dilakukan secara istiqomah dan membuahkan hasil yang maksimal dalam kepemimpinannya untuk meningkatkan kesejahteraan ummatnya. Hal yang paling utama tujuannya adalah lebih mendekatkan diri dan ummatnya ke jalan Allah SWT.

                Demikian sepintas kisah sahabat dan filosofi kebiasaan di Masjid Annisa yang menginspirasi kita untuk berbuat sesuatu sekecil apapun dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa saja memulainya, misalnya dengan hal yang paling mudah di antaranya mencatat sesuatu yang terjadi di hari itu di catatan kecil yang kalau dikumpulkan akan mejadi sebuah karya atau tulisan. Kita mencoba mendawamkan sholat dluha walaupun hanya dua rakaat tetapi istiqomah dan kontinu (dari pada melakukan 12 rakaat tetapi dilakukan sebulan sekali, atau bahkan dua bulan sekali. Wah itu kalau dalam istilah mahasiswa SKS (sistem kebut semalam)!. Shalat yang lebih bagus sekali memang 12 rakaat dan dawam, tetapi itu pasti sulit) walaupun seringkali terhambat oleh kegiatan dan rutinitas sehari-hari yang sungguh padat. Penulis juga mengingatkan, tidak ada salahnya kita memulai lagi one day one ayat-nya yang mungkin sempat tertunda s1ai s1ai lupa  “hanca” bacaan (pengalaman pribadi) tetapi kalau “keukeuh” diniatkan dalam hati, saya harus bisa dan tidak boleh terganggu satu hari satu ayat! Toh pada kenyataannya kalau sudah membaca Alqur`an bahkan bukan hanya satu atau dua ayat yang kita baca, justru bahkan mungkin bisa satu halaman, dua halaman bahkan satu juz! Subhaanalloh itulah kalamulloh, membuat kita betah, rindu, bagaikan syair-syair yang indah, yang kita lantunkan karena Allah karya pujangga di atas pujangga rima di atas rima. Ayat-ayat yang indah ketika hati sudah terpanggil dengan hidayahnya, ingin sekali kita menggenggamnya, memeluknya, membukakannya memandang ayat demi ayat bahkan ketika s1ai di sebuah ayat ada yang membuat kita bercucuran air mata dan yang membuat kita tenang serta membuat kita dekat untuk mengadu pada Nya. Semoga kita menjadi orang yang istiqomah dan dawam dalam kebaikan demi mencapai mardhotillah, karena kemarin telah berlalu, hari ini milikmu, dan esok belum tentu! Semoga bermanfaat dan salam! Allaohumma sholli alaa sayyidia Muhammadin sayyidil mursaliin!(Aisyah Nurlaela)