CENDEKIA, NEVERLAND, DAN MASA KANAK-KANAK SAYA

  • (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2016-10-07 17:00:00 - Kategori : BERITA

    CENDEKIA, NEVERLAND, DAN MASA KANAK-KANAK SAYA

    Oleh: Rama Firdaus

    Neverland tidak ada, dan tidak akan pernah ada. Ia hanyalah dunia khayalan yang terkurung di dalam buku cerita anak-anak karangan J. M. Barry pada tahun 1911, “Peter Pan”. Neverland sendiri adalah suatu negeri ajaib di mana anak-anak tidak pernah beranjak dewasa. Ialah dunia yang berpenuh buncahan tawa riang anak-anak.

    Tapi saya ralat pernyataan saya barusan, sebab pada kenyataannya Neverland memang benar-benar “ada”.Ia hidup, mendekam di dalam hati jutaan anak-anak di seluruh dunia, menjadi dambaan, termasuk saya.

    Ah, suatu negeri di mana kita tidak pernah tumbuh dewasa.

    Apa itu menjadi dewasa? Selain pertambahan umur dan perkembangan fisiologis manusia, ia juga seringkali dikait-kaitkan dengan perkembangan sikap manusia. Lain kata, di masa dewasalah masa kanak-kanak yang memancarkan cahaya hologram berwarna-warni dikubur.

    Ya, dikubur, meski seringkali kita, termasuk saya menguburnya dengan terpaksa. Jujur saja, kita tidak pernah benar-benar tumbuh dewasa. Mainan gasing, mobil-mobilan, sepeda roda tiga, masih tersimpan jauh di sanubari kita, di sanubari saya.

    Untuk saya, bukanlah hal yang mudah menjadi dewasa. Menjadi dewasa berarti berhadapan dengan banyak tuntutan. Bekerja, jatuh cinta, patah hati, dan berbagai macam tuntutan lainnya. Saya tidak dapat menolaknya.

    Seringkali saya membayangkan kalau Neverland benar-benar ada. Suatu tempat di mana umur saya ditangguhkan s1ai sepuluh tahun saja. Di mana saya masih bisa bermain bertelanjang kaki, berenang di sungai dengan sekawanan kerbau, dan hal-hal kekanak-kanakan yang lainnya. Masa kanak-kanak juga adalah masa di mana kreatifitas saya masih segar, belum diinterupsi oleh tuntutan-tuntutan dari masa dewasa, itu yang paling penting.

    Tapi untunglah, meski saya tidak dapat menemukan Neverland yang sesungguhnya, sekarang saya bekerja di sebuah tempat yang boleh dibilang menggenapkan imajinasi saya tentang tempat khayalan yang ajaib tersebut. Sebuah tempat yang seringkali membuat saya merasa menjadi anak-anak, berpenuh ledakkan-ledakkan imajinasi yang memancing kreatifitas kembali.

    Tempat ini bernama SMP Islam Cendekia. Sebuah tempat yang berada Cianjur. Sekolah ini menyajikan alam yang masih asri dan hijau, dilingkung oleh arel pesawahan dan pegunungan. Saya sangat beruntung bekerja di tempat yang indah ini.

    Seringkali saya merasa menjadi seorang bocah kecil yang bebas berlarian di tempat ini. Riang dan tanpa beban. Imajinasi saya berletup-letup di tempat ini, menghasilkan kreatifitas saya yang terlanjur sedikit demi sedikit dimamah oleh masa-masa dewasa.

    Setiap sudut tempat saya bekerja ini dipenuhi energi-energi positif.

    Beruntunglah juga anak-anak yang bersekolah di sekolah tersebut. Anak-anak zaman sekarang adalah anak-anak yang dipaksa menjadi dewasa oleh media. Mer1as kodrat utama mereka sebagai anak-anak: berimajinasi. Di sekolah ini, daya imajinasi mereka dikembalikan. Kreatifitas dan daya inovasi anak-anak benar-benar dirayakan di tempat ini. Alam menjadi rahim yang melahirkan kembali anak-anak yang bersekolah di tempat ini menjadi bayi-bayi yang bersih dari pengaruh-pengaruh yang memaksa mereka menjadi dewasa di usia dini.

    Seringkali bila waktu senggang saya menjelajahi tempat ini. Tempatnya yang sangat luas menjadikannya asyik untuk dijelajahi. Ada juga hutan mini yang sering saya kunjungi. Tempatrnya nyaman. Bila di waktu pagi, cahaya matahari menembus dedaunan, mencipta berkas-berkas kuning yang hangat di rerumputan. Sealir parit kecil mencipta suara ricik yang menimbulkan perasaan damai. Kicau riang burung-burung ikut berpadu. Semuanya membentuk suatu harmoni alam yang menyeimbangkan segala sesuatu yang tidak seimbang di dalam diri saya. Saya selalu merasa terlahir kembali di tempat ini. Ah, alangkah beruntungnya mereka yang bekerja di tempat ini.

    Itulah sekadar curahan hati saya selama bekerja di tempat ini. Terima kasih Cendekia, terima kasih… Terima kasih sudah mewujudkan Neverland yang selama ini saya cari. Terima kasih sudah mewarnai masa-masa dewasa saya…

     

    2016.