Ukiran Tinta Emas

  • Akhri. R (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2016-06-21 17:00:00 - Kategori : BERITA

    Ukiran Tinta Emas

    Angin malam berhembus lembut mensejukan halaman belakang rumah kedua orangtuaku, suara angin berdesis lembut membuat para rumput menari dengan anggun mengikuti arah angin. Ribuan bintang bersatu membentuk formasi nan indah menghiasi malam liburanku. Aku terbaring di atas ayunan berjaring yang di ikat pada 2 pohon besar nan kokoh. “Teng.. tong.. teng.. tong” ponselku berdering mengisyaratkan ada BM yang masuk. Dengan sigap aku membuka pesan tersebut.

    “PING!!!” “PING!!!” “Assalamu’alaikum Fah, ?” Seketika mataku membulat lebih lebar dari biasanya. Senyumku merekah dengan sendirinya.

    Zaid nge BM ?” lirihku dalam hati. Ini adalah pesan pertamanya yang m1ir ke dalam ponselku. Jari jemari kecilku menekan lembut layar ponsel untuk menjawab pesannya.

    “Wa’alaikumussalam. Ada apa?”  Dengan hitungan detik pesan pendek tersebut s1ai pada ponselnya.

    “Fah, besok Jum’at ada kajian islami lho di daerah Goro. Bagus lho materinya” ajaknya. Ya Zaid Ad-Dakhwan namanya. Ia aktif dalam berbagai bidang agama selain itu otaknya yang super jenius membuat hati para guru terpikat padanya. Pemuda Sholih nan jenius julukannya.

    “Siapa emang pematerinya” Tanyaku.

    “Aku gak bisa kasih tau kamu sekarang. kita ketemu di depan kedai Younger  jam 08.00 WIB. Semoga gak ada halangan  ya. Wassalamu’alaikum” katanya mengakhiri pesan.

    “Insyaa Allah. Wa’alaikumussalam” Jawabku.

    ***

     

                1/3 malam. Malam dimana para malaikat berkumpul mendo’akan setiap insan yang terjaga. Terjaga untuk menyebut nama indahNya, meminta dan memohon 1unan pada sang Maha Kholiq. Malam yang memberikan ketenangan jiwa serta kejernihan pola pikir. Hanya orang-orang tertentu yang dapat menikmati kemesraan ini bersama TuhanNya.

    “Ya Wadood, engkaulah yang dapat membolak balikkan hati. Teguhkanlah hatiku pada agamaMu. Jauhkan dari hal yang membuatku jauh dariMu. Gandenglah aku untuk tetap di jalanMu, jalan yang engkau ridhoi. Ya Rahman ya Rohim Berkahi keluargaku dan calon pelengkap agamaku”  ucapku dalam do’a. Aku memegang erat al-qur’anku. Membuka sembarang isi al-qur’an. Sorot mataku terpaku pada terjemah suroh Al – Qomar ayat 40 “Dan sungguh, telah Kami Mudahkan al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” Seketika tubuhku merinding tak karuan, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku tertunduk malu pada diriku sendiri. Ayat ini mendorong diriku untuk lebih sungguh-sungguh mendalami Al-Qur’an, ya petunjuk  bagi setiap insan yang ingin mengambil pelajaran.

    “Tapi apakah aku bisa menjadi seorang hafidzoh ? Bisa, aku pasti bisa ! sudah lama kamu beristirahat untuk tidak melanjutkan hafalanmu, inget ayat itu fah. Allah telah memudahkan al-qur’an bagi setiap orang yang ingin mengambil pelajaran. I believe you can do it Tufah !! Bismillah.. start from 3rd juz until 30th ,”  akupun mengazzamkan diri untuk melnjutkan hafalan Qur’anku.

    ***

     

                Hari ini hari Jum’at. Rajanya para hari. Sesuai pesan Zaid aku menemuinya di Kedai Younger pukul 08:07 pagi. Pancaran matahari pagi membuat tubuhnya t1ak lebih bugar. Angin kecil yang membuat rambut kecenya bergerak kesana kemari. Ia memberikan senyuman ramah saat kedua bola matanya melihat kedatanganku.

    “Assalamu’alaikum”  Sapanya ramah.

    “Wa’alaikumussalam. Hmm… Apakah aku telat ?”

    “Tidak kok, acara di mulai pukul 09:00 WIB. Ada yang mau aku omingin dulu sebelumnya. Kita bisa memesan berbagai menu sarapan dan minuman disini. Masuk yok !”

    Tanpa menjawab ajakannya. Aku mengikuti langkahnya dari belakang.

    “Silahkan duduk.” Zaid mempersilahkan

    “ Terimakasih. Kenapa kamu ngajak aku buat hadir di kajian itu?” tanyaku penasaran

    “Hmm.. Karena aku yakin kamu bakal tertarik dan mau. Kajian ini tak sembarang orang yang diundang”

    “Kok bisa? “ Tanyaku penasaran.

    “Iya, nanti juga kamu tau apa alasannya. Kenapa hanya orang – orang tertentu dan apa alasanku memilihmu untuk ikut bersamaku” Ucapnya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

    Kami banyak berbincang-bincang di hari ini. Banyak hal yang kami bahas, entah mengapa aku merasakan hal yang berbeda. Ya kenyamanan serta rasa aman yang menyelimuti hati saat ini. Dia begitu mahir membuat akrab seseorang. Selintas tak percaya ia dapat bersikap se friendly itu padaku, karena jarang sekali ku melihat ia berbaur dengan para akhwat di sekolah. Tapi aku tak boleh kegeeran, mungkin dia hanya menganggapku sebagai calon teman akrabnya. Arloji menunjukkan pukul 08:37 kami memutuskan untuk bergegas menuju tempat kajian tersebut. Aku mengikuti langkah Zaid, langkahnya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir rapi di sana.

    “Silahkan masuk” Membuka pintu mobil bagian depan.

    Aku terheran melihat seikapnya

    “Kamu yang bawa?” Kataku.

    “Iya, tenang aja aku udah punya SIM kok” Katanya meyakinkan sambil memperlihatkan SIM nya

    Aku hanya tersenyum dan segera masuk. Sepanjang jalan tubuhku terdiam mematung. Lisanku tak bergerak sedikitpun. Ini pertama kalinya aku berjalan bersama seorang ikhwan tanpa di d1ingi siapapun.

    Are you ok ukhty ?”  Tanya nya.

    “Ya I’m so so” jawabku menutupi perasaanku.

    “Oya, tau gak? Aku sering main tebakan sama ayah. Ya, meskipun beliau sibuk dengan pekerjaannya tetapi beliau tetap menyempatkan waktu luangnya untuk menemani anak pertamanya bermain tebakan. Berani jawab gak kalo ana kasih kamu tebakan?”

    “Hmm.. Baiklah, siapa takut !” Tantangku

    “Ok, dengarkan baik – baik. Aku hanya memberimu 3 kali kesempatan untuk menjawab dan hanya memberi satu tanda kunci tambahan., itu juga kalo anti yang pinta. Siap?”

    “Ok siip !”

    “Aku adalah sesuatu yang dapat kusut tetapi kenyataannya aku tak memiliki sehelai rambutpun. Aku dapat mengeluarkan suara walaupun kenyataanya aku tak memiliki lisan. Siapakah aku?”

    “Hmm.. Bisa mengeluarkan suara tapi gak punya lisan ? hmm.. Toa ya? “ Kataku menebak

    “Jhahah bukan miss Toa, bukan itu jawabannya. Toa bisa mengeluarkan suara tapi gak bisa kusut. Coba tebak lagi” Katanya riang.

    “Hmm.. aku bukan miss Toa. Aku minta tambahan kunci jawaban” kataku kesal

    “ Hehehe.. iyaa, iyaa, bercanda. Ok, jika itu yang kamu mau. Hmm, dia memiliki sahabat, tanpa sahabatnya itu ia takkan m1u berfungsi, selain itu dia dapat dinikmati oleh semua kalangan. Siapakah aku ?” katanya tersenyum jahat.

    “Curiga barang nih.. hmm, komputer.. handphone?” Jawabku..

    “Wess.. wess yang mana nih yang bener ?” Ledeknya.

    “Handphone?”

    “Jahha salah !” Katanya

    “Ya deh nyerah.. emang apa jawabannya ?” Kataku pasrah

    “Nyerah gitu aja? Yasudah.. Jawabannya..” Ziad memutuskan kalimatnya

    “Apa jawabannya ?” Kataku mendesak

    “Bisa kusut walaupun gak punya rambut. Dapat mengeluarkan suara meskipun tidak punya lisan. Hanya dapat berfungsi jika sahabtanya ada. Dan dapat dinikamati oleh semua kalangan itu adalah Kaset !” Katanya sambil tertawa kecil

    Aku menggeleng-gelengkan kepala tak menyangka. Keduanya tak karuan. Tertawa lepas bersama mencairkan suasana. Ajaib ! rasa tegang itupun hilang seketika tanpaku sadari. Kami s1ai disebuah daerah, daerah yang dikenal dengan keasrian alamnya, keramahan para masyarakatnya. Daerah ini selalu mengadakan festival setiap 2 minggu sekali dimana para penduduk menyuguhkan makanan khasnya masing-masing. Ya, di daerah ini tak ada satu orangpun yang merupakan penduduk asli. Orang-orang menyebutnya Goro, daerah kecil yang memiliki ketatadaerahan yang begitu sempurna. Menyenangkan !

    Aku berjalan mengikuti langkah Zaid yang tengah mendekat pada suatu rumah kalsik. Begitu banyak pertanyaan yang membelenggu pikiranku. Apa maksud Zaid? Mengapa ia mendekati rumah klasik itu padahal dia akan mengajakku ke sebuah Majelis ta’lim?” Langkah kami semakin dekat dengan rumah klasik yang dikelilingi pagar. Zaid membuka pagar dan berjalan tenang memasuki halaman depan. Aku tak dapat menahan rasa penasaranku, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengisi keheningan.

    “Ada apa dengan rumah ini ?” Kataku penasaran

    Dia hanya tersenyum dan memberi isyarat untuk tetap mengikuti langkahnya. “Assalamu’alaikum” Salamnya sambil mengetuk pintu

    Tak lama kemudian sosok lelaki dewasa membuka pintu tersebut. Wajahnya yang ramah membuat hati ini sedikit tenang. Aku terkejut ketika menyadari siapa orang yang aku kunjungi. Sepasang bola mata ini rasanya sudah tak asing lagi dengan sosok lelaki dewasa ini.

    “Pak Walid ?” Kataku terkejut.

    “Ayo masuk”  Pak Walid mempersilahkan.

    Apa maksud Zaid, mengapa dia membwaku ke rumah pak Khuwalid ? rumah seorang guru agama di sekolahku. Aku hanya berjalan memasuki rumah klasik itu mengikuti langkah Zaid. Pikiranku bertanya tanya. Ku memandang wajah Zaid dengan penuh kebingungan. Dia hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Pak Khuwalid membawa beberapa potongan kue untuk di sajikan, mempersilahkan kami duduk. Aku dan Zaid duduk terpisah.

    “Tufah, kamu pasti bingung ya” Kata pak Khuwalid meyakinkan. Aku hanya mengangguk pelan.

    “Oya, Bundaa, tolong kesini ada anak-anak main kerumah” Pak Khuwalid memanggil

    “Biar Tufah ada mahromnya” Lanjut Pak Walid. Aku  hanya tersenyum kecil.

    Beberapa saat kemudian sosok wanita anggun dengan Hijab syar’i yang menyelimuti seluruh bagian tubuhnya. Melindungi paras cantiknya dengan menggunakan cadar. Aku terkesan dengan pen1ilannya, begitu tenang saat dipandang. Wanita itu duduk di dekatku. Dengan sigap ku mempersilahkannya duduk sambil mencium telapak tangannya. Nyaris tak sempurna beliau menahanku untuk menunddukan kepala. Pak walidpun memulai pembahasan. Betapa terkejutnya aku dengan apa yang dikatakan pak  Walid. Entah mengapa pikiranku berkata iya dengan apa yang dis1aikan pak walid padaku. Bisa secepat itu aku menanggap materi yang di berikan beliau. Begitu banyak hal baru yang tak pernah terfikirkan sebelumnya. Aku mengangguk mengerti dari apa yang dikatakan pak Walid kepadaku. Aku semakin mantap untuk mulai mengukuti pak Walid karena beliau menganjurkanku untuk sholat istikhoroh terlebih dahulu sebelum benar – benar memutusan untuk berhijrah. Kami diminta untuk datang kembali di hari senin. Akupun mengangguk pelan lalu berpamitan untuk pulang, Zaid mengantarkanku s1ai depan rumah, ini pertama kalinya aku diantar pulang oleh seorang ikhwan tanpa hambatan tertentu. Begitu cepatnya Zaid mewarnai kehidupanku.

                                                       ***

     

    Jarum jam terus berputar. Lantunan murotal Syaikh Mishary Rashid yang menemani soreku. Kupandangi mading sederhana yang mengelilingi tembok kamarku. Berbagai foto-foto kegiatan yang berukuran kecil menghiasi mading itu.

    “Ya Allah, apakah Zaid adalah sosok yang Engkau kirimkan kepadaku untuk membimbingku ke jalanMu?” Kataku pelan seraya memandang foto-foto kenangan itu. Aku masih tak habis Pikir dengan hal yang kudapatkan hari ini. Serasa terlalu cepat aku mendapatkannya. Dari mulai sikap Zaid yang membuatku tak habis fikir. Perkataan pak Khuwalid mengenai permasalahan golongan-golongan islam s1ai akhirnya memberi tahu mana golongan islam sebenarnya. 4 tahun sudah Pak Walid dan istrinya memegang teguh dan merahasiakannya. Hanya orang – orang terpilih yang beliau pilih. Aku senang menjadi salah satu orang yang dipilih Pak Walid.

    Maghrib menjelang isya. Bintang malam menghiasi langit. Membentuk formasi indah. Menerangi langit hitam pekat. Aku mengisi malam dengan memuroja’ah hafalanku. Adzan isyapun berkumandang dengan merdu, suaranya sudah tak asing di gendang telingaku. Lantunan adzan kak Dafi yang selalu membuatku tenang dan berhenti mematung khusyu’ menjawab panggilannya, terbuai dengan panggilan ikhlasnya. Ia aktif di masyarakat, kak Dafi adalah ketua pemuda ikatan masjid di daerahku. Sosok lelaki yang sangat dibanggakan oleh sekolah dan disegani oleh para masyarakat. Akhlaknya yang begitu karimah membuat setiap orang yang menjumpainya  pasti terkagum – kagum. Cerdas sekali ! dia dapat berinteraksi dan menanggapi sesuatu dengan mudah. beliau adalah kakak kelasku yang baru saja lulus dengan nila yang spektakuler. Otaknya yang cerdas membuat prestasinya terus mengalir deras dari berbagai bidang.  Adzannyapun selesai “Semoga Allah memberkahi orang yang melantunkan adzan dan orang-orang yang menjawab adzan. Aamiin” kataku sambil mengusapkan kedua tangan ke wajahku. Akupun segera bergegas untuk memenuhi panggilan adzan dan tak lupa dengan saran dari pak Walid untuk sholat istikhoroh. Aku memilih melaksanakannya sebelum tidur. Kini kedua mataku tengah tertutup mengistirahatkan diri. Terlelap dalam kedamaian malam hari.

    ***

     

    Aku berjalan beriringan bersama Pak Khuwalid menyelusuri jalan. Banyak kendaraan yang berlalu larang di sepanjang jalan. Aku tak menyangka ternyata dibalik sikap ramah Pak Khuwailid kutemukan sikap kerasnya beliau terhadap kepercayaan yang beliau pegang teguh, sikapnya di sekolah sama sekali tidak mencurigakan. Beliau memberi tahu tentang asal mulanya golongan islam ini. Aku terus melangkah memasuki suatu gang yang cukup hening, menemukan sebuah rumah yang tak pernah kutemui sebelumnya. Pak Khuwalid mengajakku untuk ikut masuk. Terkejutnya aku saat sorot mataku tertuju pada seseorang  yang tengah duduk di lesehan ruang tamunya. Akupun mencium tangan Pak Habib, ia mengelus kepalaku tanpa senyuman khasnya.

    “Tufah, Kenapa kamu disini ?” Tanya Pak Habib tak menyangka.

    “Aku diajak oleh Pak Khuwalid. Aku kira bukan ke rumah bapak” Kataku berterus terang

    “Jangan nakal ya” Katanya memperingati

    In Syaa Allah bib” Kataku

    Tak lama kemudia Pak  Khuwalid berpamitan diikuti olehku. Langkah Pak Khuwalid lebih cepat dari biasanya.  Pikiranku membawaku menuju sebuah hutan diatas gunung. Kami menghabiskan waktu disana. Pak Khuwalid membawa secarik kertas dan memberi tahuku tentang golongan islam yang dipegang teguh olehnya. Begitu banyak goresan tinta yang beliau keluarkan untuk memperjelas materi golongan islam itu.

    “Teettttt!” Suara klakson bus yang membangunkan lamunanku. Aku masih tetap berada di pinggir jalan bersama pak Khuwalid, kami menaiki angkutan umum dan turun di persimpangan jalan, ketika hendak menginjak jalanan aspal Pak Khuwalid terjatuh karena angkutan umum yang bergerak begitu cepat tanpa memperhatikan si penumpang sudah turun secara sempurna atau belum. Pak Khuwalid meringgis kesakitan, ketika aku hendak membantu pak Khuwalid tiba-tiba sebuah motor ninja datang dengan kecepatan tinggi, seketika saat mengerem. Gubrak ! motor ninja itu terjatuh. Kedua kelopak mataku seketika terbuka dari tidurnya. Rasa kaget dan lelah masih tersisa di dunia nyataku.

    “Ternyata itu hanya mimpi. Tapi apa maksud dari mimpi ini?” tanyaku dalam hati.

                                                       ***

     

    Hari ini hari Senin, dimana setiap pekerja dan pelajar mulai beraktivitas kembali menjalani beberapa tugasnya-tugasnya yang melelahkan. Kembali disibukkan dengan berbagai kegiatan demi mencapai target-target yang telah ditentukkan. Tetapi tidak denganku karena saat ini aku masih menikmati masa liburanku bersama keluarga. Hari ini Zaid akan menjemput langsung ke rumah. Jarum jam terus berputar sesuai dengan porosnya. Anak panahjam menunjukkan pukul 07:00 suara mesin mobil yang semakin jelas terdengar mendekat kearah halaman depan rumah kedua orangtuaku. Aku bergegas keluar rumah. Lihat siapa yang datang ?

    “Ayahh” Panggilku sambil berlari mengh1iri sosok lelaki beribawa itu.

    “Gimana kabarnya. Maafin ayah gak bisa jemput waktu kamu libur” Katanya.

    “Iya gakpapa kok yah. Kan ada bunda yang bisa jemput. Masuk yuk” Kataku

    Betapa senangnya aku bertemu kembali dengan sosok pahlawan kesayanganku setelah 3 bulan tak berjumpa. Hanya dengan berkomunikasi jarak jauh yang kubisa untuk meredakan rasa rinduku. Kami banyak bercerita. Aku begitu nyaman di dekat beliau layaknya seorang anak yang dekat dengan malaikat tanpa sayapnya. Menyenangkan ! Tiba-tiba seseorang menekan bel rumah. Aku bergegas untuk membuka pintu. Pemuda itu berdiri tegak di depan pintu rumah, berpakaian rapi tanda sudah siap untuk memenuhi janji. Nyaris tak ingat dengan janji itu semenjak kedatangan ayah. Aku hanya tersenyum

    Assalamu’alaikum” Kata Ziad menyapa

    “Wa’alaikumussalam, ayo masuk ada ayah aku baru datang” Kataku mempersilahkan

    Langkah ayah mendekat pada kami. Lalu terseyum memandangi kami.

    “Nak, temennya tufah ?” Tanya ayah pada Zaid

    “Iya, Assalamu’alaikum om. Nama saya Zaid temannya Tufah” Katanya memperkenalkan diri sambil mencium tangan ayahku

    “Ohh gitu, ayo masuk” Ayahku mempersilahkan.

    “Hmm.. begini om, saya datang kemari ingin meminta izin untuk menjemput Tufah. Kami akan berkunjung ke rumah Pak Walid. Bolehkah ?” Kata Zaid berhati-hati.

    “Emangnya ada apa disana ?” Tanya ayahku.

    “Hmm.. Pak Walid mengundang kami untuk menghadiri kajian para pemuda muslim di Goro” katanya menjelaskan.

    “Baiklah boleh kalau begitu. Hati-hati di jalan. Titip Tufah ya Ziad” kata ayah memberi pesan

    “In syaaAllah. Om terimakasih banyak” Kata Ziad senang

    “Yasudah aku siap – siap dulu ya” Kataku

    Akhirnya kamipun berpamitan dan pergi. Ayahku menitipkan salam kepadaku untuk menjaga diriku baik-baik. Sepanjang jalan Zaid bercerita tentang bagaimana ia dapat mengenal golongan tersebut. Tetapi sayangnya kedua orangtuanya belum mengetahui tentang hal tersebut.

    “Kok bisa sih orangtua kamu gak tau ?” Tanyaku heran.

    “Aku sengaja merahasiakannya. Aku memiliki tekad untuk mengajak kedua orangtuaku juga nantinya. Karena aku ingin menyelamatkan orang – orang yang kusayangi” kata dia menjelaskan

    “Lalu, mengapa aku yang terlebih dahulu kamu ajak?” Kataku heran.

    “Nanti juga kamu tau apa alsannya” Katanya dengan santai.

    “Hmm..” Kataku sambil mengaggukan kepala.

    Kami s1ai di rumah Pak Khuwalid. Beliau telah menunggu kedatangan kami. Serasa sudah akrab lama aku dengan Pak Khuwalid, beliau sangat sabar menjawab semua kebingunganku. sikapnya yang patut dicontoh membuatku terobsesi untuk mengikuti langkah hidupnya. Beliau menyemangatiku “Ayo fah, memperjuangkan kebenaran” kata pak khuwalid. Tak lama beliau mnanyakan hasil dari sholat istikhorohku. Aku menceritakan perjalan mimpiku yang cukup panjang dan melelahkan bagiku. Mendengar cerita itu pak Khuwalid sedikit canggung dan mencoba meyakinkanku bahwa niat yang baru kumiliki itu benar. Akhirnya kumemutuskan untuk ikut bergabung bersama beliau. Rasa tegang menyelimutiku mengucapkan kalimat-kalimat bai’at yang di bimbing langsung oleh Pak Walid. Zaid yang menjadi saksi nyata bahwa aku telah resmi mengucapkan bai’at, berikrar untuk mengikuti semua yang diajarkan oleh Pak Khuwalid.

    Alhamdulillahirabbil ‘aalamin” mengakhiri ikrar sambil mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya.

    Senyum Zaid tersenyum lebar. Tak pernah kulihat dia sebahagia itu di depanku, kini aku bersama mereka. Aku harus menjaga perjanjian ini dari orangtuaku layaknya yang dilakukan Zaid kepada kedua orangtuanya. Aku dianjurkan untuk menyisakan 2,5% dari uang saku untukku infakkan. Akupun mengagguk mengerti dan berpamitan pulang. Di sepanjang jalan aku memikirkan beberapa kebingunganku yang belum ku s1aikan.

    “Selamat ya Tufah, semoga istiqomah memperjuangkan islam yang sesungguhnya” katanya.

    “Iya in syaaAllah, mohon bimbingannya” Kataku canggung

    “Kita sama-sama” Ujarnya

    “Ada yang masih bingung sebenernya tapi aku gak berani ngungkapinnya” kataku canggung

    “Wajar Fah, ana juga awal – awalnya banyak bingungnya. Tetapi semua kebingunganku terjawab tuntas oleh pak Walid. Mungkin aku bisa memecahkan kebingunganmu” katanya lembut.

    “Iya  Pak Walid itu sabar banget ngejawab pertanyaan-pertanyaan aneh kita. Hmm… sebenermya kita itu bener gak sih? Tanyaku

    “Hmm.. kamu tau gak Pak Walid itu pernah kehilangan pekerjaannya demi mempertahankan golongan ini. Dan beliau telah menjalaninya selama 4 tahun. Kita tahu beliau seorang yang cerdas dan sangat teliti. Dari sikap beliau yang rela kehilangan pekerjaannyapun aku sudah yakin bahwa golongan ini tak main-main” Katanya.

    “Kamu setiap bulan ngasih berapa?” Tanyaku

    “Tergantung sih, kalo punya uang lebih biasanya lebih dari 2,5%”

    “Bukannya hanya dianjurkan 2,5%?”

    “Itu minimal Tufah, selagi ada peluang untuk menambah pahala kenapa tidak ?”

    Aku mengangguk pelan pertanda mengerti. Zaid mengantarkanku kembali, kali ini ia tak berpamitan dulu dengan ayahku karena ada urusan mendadak yang ia mesti laksanakan katanya. Akhirnya akupun melangkah memasuki rumahku seraya berkata

    Syukron katsir akhi, wassalamu’alaikum” kataku berpamitan. Ziad hanya mengangguk dan tersenyum kemudia mobil itupun pergi menjauh dari batas pandanganku.

    ***

     

    Kini, hubunganku dengan Zaid semakin dekat. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Mengikuti berbagai pengajian yang di pimpin langsung oleh pak walid, 2 minggu sudah aku mempertahankan golongan ini. Chatinganku bersamanya memenuhi layar ponselku. Apakah ini rasanya jatuh cinta ?

    “Ya Allah jangan biarkan aku terjebak dalam cinta yang semu. Cinta yang datang sebelum kehalalan datang” Sedikit penyesalan yang kurasakan tetapi aku masih kalah dengan hawa nafsuku.

    ***

     

    Aku mengikuti kajian yang diadakan oleh ketua pemuda irmas di daerahku, ya kak Dafi. Dia yang memimpin kajian tersebut. Begitu takjub saaatku melihat jiwa kepemimpinannya serta kebiwaannya yang terpancar dari dirinya. Dia meny1aikan  kutipan  Buya Hamka  yang mengatakan bahwa “Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji Kata-kata itu yang menyadarkan akan hubunganku dengan Zaid yang semakin dekat. Aku harus berusaha untuk menjaga diriku dengan Hijab yang syar’i. Bukan hanya dari cara berpakaianku melainkan dengan sikapku, tutur kata dan akhlak yang mesti aku jaga dengan baik pula. “Terimakasih Engkau telah mengingatkanku ya Allah” kataku penuh syukur. Acara kajiannya pun selesai. Aku melangkah keluar sendirian menuju teras masjid. Gendang telingaku mendengar suara laki – laki yang memanggil namaku.

    “Tufah..!” Seru pemuda tersebut memanggil

    Aku memalingkan wajahku menuju sumber suara yang memanggilku. Sosok lelaki yang bertubuh cukup tinggi mengh1iriku dengan langkahnya yang cukup cepat, kedua bola mataku terpaku pada sosok lelaki ‘alim itu. “Kak Dafi” Lirihku pelan

    “Inikah handphone mu Tufah?” Katanya memastikan.

    “Subahanallah aku meninggalkannya. terimakasih akhi” kataku malu.

    Ana pernah lihat anti turun dari mobil yang dikendarain seorang ikhwan. Kalo boleh memastikan itu siapa?” tanyanya dengan hati-hati.

    Ketika itu seketika aku merasa amat malu dan menundukkan kepalaku. Kak Dafi merasa bersalah dan mencoba menarik pertanyaannya. Namun dengan sigap aku menjawabnya

    “Zaid namanya akhi” kataku.

    “Zaid Muhammad Tsabit kah maksud anti” katanya terkejut.

    Aku hanya mengangguk pelan.

    “Dia temanku. Jujurlah kepadaku,  apa yang ia lakukan kepadamu?”  Tanyanya.

    Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan kak Dafi kepadaku. Aku mencoba untuk menutupinya meskipun dalam lubuk hati  ingin sekali berbagi tentang golonganku namun Dafi ialah sosok yang sangat lembut dan cerdas dalam menanggapi sesuatu, ia pandai membujukku untuk menceritakan yang sebenarnya. Kak Dafipun mendengarkan semua ceritaku tanpa memotong sedikitpun. Wajah kak Dafipun memucat dia terkejut dengan ceritaku yang telah bergabung dengan golongan itu. Kak dafi berusaha untuk tetap tenang dan menasehatiku

    Masyaa Allah Tufah, aku terkesan dengan usahamu untuk menjadi lebih baik dalam agama, namun apa yang kamu tengah jalani ini salah. Karena diantara 73 golongan itu taka ada yang dapat memastikan mana 1 golongan yang paling benar. Aku berusaha untuk mengsadarkan Zaid tetapi nayatanya tak semudah yang ku pikirkan dia telah memegangnya dengan teguh. Aku yakin kamu masih bisa mendengarkan dan menurutiku” Katanya dengan bijak.

    Selintas ku tak percaya dengan semua ini. Aku bingung mana yang harus ku percayai. Dengan tegas kak Dafi memberiku beberapa penegertian, sejarah golongan itu muncul dengan sangat detail s1ai membawa bukti – bukti melalui sebuah buku yang mengupas semua seluk beluk golongan itu. Aku hanya terdiam membisu. Bingung mana yang harus kupercayai. Genap satu bulan ku mengikuti ajaran dari golongan ini. Kak Dafi memberi kesempatan kepadaku untuk berpikir baik-baik dan mengatakan kata terakhiranya sebelum aku pamit “Ingat ! Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Tidak ada dakwah yang dilakukan secara sembunyi – sembunyi apa lagi menyuruh untuk merahasiakannya pada orang tua kita sendiri. Ikuti ajaran yang telah di akui oleh orang mayoritas bukan minoritas” katanya dengan tegas. Akupun mengangguk pelan dan berpamitan untuk pergi. Sepanjang jalan aku memikirkan apa yang dikatakan kak Dafi kepadaku. Akupun pulang dengan tubuh lemas. Yang kubisa lakukan untuk menenangkan diri ialah menikmati angin yang berayun menyentuh tubuhku yang tengah menempel pada ayunan berjaring. Pikiranku terus menerus memikirkan dua orang yang sempat menggoreskan tinta kehidupan dengan caranya masing – masing. Ayunanku terus berayun, ku menikmatinya membuat hatiku sedikit tenang. Selintas pikiranku mengatakan orang terakhir yang ku sebut adalah orang yang harus ku tanyakan sesuatu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti naluriku. Aku merubah posisiku menjadi posisi duduk dan kaki menginjak tanah halaman rumah kedua orangtauaku. Aku menyebut nama Dafi dan Zaid secara bergantian sesuai arah ayunan yang bergelayun. Ayunan terus menggelayun dengan anggun seraya ku menyebut kedua nama ikhwan tersebut secara bergantian “ Dafi.. ! Zaid.. ! Dafi.. ! Zaid.. ! Dafi.. ! Zaid.. ! Dafi !” ayunan tersebut  terhenti beriringan dengan nama “Dafi.. !” yang kusebut. Akhirnya dengan mantap aku memeutuskan untuk mengechat Dafi terlebih dahulu, menanyakan sesuatu yang telah ku rencanakan sebelumnya.

    ***

     

    Selama tiga hari berturut-turut Kak Dafi terus menerus mengirimkan artikel dan penjelesan mengenai golongan tersebut. Aku tak pernah membalas pesannya. Tetapi aku sadar aku yang salah. Aku harus segera menjemput hidayah itu. Allah mendatangkan Kak Dafi untuk menjawab do’aku. Akhirnya aku memenuhi tekadku untuk mengirim pesan pada Kak Dafi. Tanganku seketika bergetar. Jaru jam terus berputar mengikuti porosnya. Ku penggam erat ponselku menarik nafas dalam – dalam untuk memulainya. Ya, mengirim pesan untuk Dafi. Dengan sigap ku mencari kontak BM  Dafi dan mulai mengetik pesan. “Assalamu’alaikum. Akhi apakah aku mengganguu? ada yang mau aku tanyakan” beberapa detik kemudian pesan itu s1ai ke ponsel Dafi. Tak lama ponsel Tufahpun berbunyi. Dengan sigap ia membuka pesan Dafi.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah. Ada apa emangnya ?” Tanyanya

    Tufah segera membalas pesannya.

    “Hmm.. Akhi, aku bingung siapa yang harus ku percayai. Akhi atau Pak Walid? Namun pernyataan akhi lebih meyakinkan. Aku sadar selama ini aku mengikuti yang sadar. Terimakasih untuk bersabar menghadapi kekerasanku untuk memegang teguh golongan islam yang keliru itu. Ada yang ingin ku tanyakan, aku berharap akhi dapat menjawabnya dengan jujur. Mengapa akhi rela mengorbankan waktunya demi membawaku kemabali pada jalanNya ”  aku menekan tombol send

    10 menit berlalu. Akhirnya Kak Dafi membalas pesanku

    “Alhamdulillah, jika kamu telah mengetahui bahwa golongan itu salah. Sekarang segeralah bertaubat, in syaaAllah Allah akan meng1unimu. Tak peduli dengan waktu yang tlah berikan untukmu, karenaku ingin anti tumbuh menjadi wanita sholih yang m1u membawa kedua orangtuanya menuju syurgaNya, memberikan mahkota terindah untuk kedua orangtuamu melalui hafalan ayat – ayat qur’anmu. Ini bukti rasa sayang ana ke anti. Ana menyimpan rasa ini sejak lama. Hanya do’a yang menjadi bukti aku mencintaimu karenaNya. Sekarang bicaralah ke ayahmu, ceritakan yang sebenarnya. Jangan takut. Semua aka nada hikmahnya” Pesannya

    Seketika penglihatanku lebih tajam. Jatung ini menompa darah lebih cepat dari biasanya. Akupun berusaha untuk tetap tenang dan membalas pesan Kak Dafi.

    “Terimakasih banyak Kak. InsyaaAllah aku akan memberi tahu ayahku malam ini. Terimakasih telah menjaga diriku dengan baik namun untuk saat ini aku tak bisa membalas perasaan itu. Karena aku masih dalam proses memantaskan diri. Kita bersahabat saja ya. Aku akan membantu akhi untuk menyadarkan Zaid. Akhi dan Zaid sudah kuanggap menjadi keluargaku sendiri. Terimakasih.. Wassalamu’alaikum” kataku mengakhiri.

    “Aku hargai keputusanmu. Terimakasih telah menganggapku keluarga. Semoga Allah memberkahi setiap langkah hidupmu. Aamiin.. Wa’alaikumussalam warahmatullah” Balas kak Dafi.

    ***

     

    Anak jarum jam menunjukkan pukul 19:30. Dengan rasa tegang diselimuti tekad yang kuat aku memberanikan diri untuk berterus terang pada ayahku. Sang pahlawan hidupku. Aku berjalan mendekati ayah yang tengah menikmati keindahan malam yang penuh hikmah ini.

    “Bolehkah aku duduk disini?” kataku ragu

    “Eh, Tufah sini sayang, ayah rindu saat kita menghitung bintang-bintang langit”

    “Ayah sehat? adakah yang ayah pikirkan saat ini?”

    “Yang ayah pikirkan ialah bagaimana cara ayah membahagiakanmu di sisa hidup ayah”

    “Ayah akan kah engkau marah ketika anakmu melakukan kesalahan. Kesalahan yang cukup serius?”

    “Ayah tidak akan marah ketika kamu telah mengakui kesalahan tersebut”

    Akupun memberanikan diri untuk  mengatakan yang sebenarnya dengan rasa penyesalan yang amat berat tak terasa air mataku mengalir deras di depan ayahku. Mendengarnya ayahku tersenyum dan mengelus kepalaku dengan lembut.

    “Tak apa sayang, kamu masih dalam masa pencarian. Ayah mengerti keadaanmu yang penting kamu telah mengakui bahwa golongan islam itu keliru. Ambil hikmahnya dan jadikan pelajaran untukmu. Lebih terbua dengan ayah ya sayang. Apakah Ziad telah menyadarinya ?” Tanya ayah

    “Belum yah”

    “Yasudah besok panggil Zaid untuk datang kerumah” Ayah menyarankan

    “Baiklah, terimakasih ayah. Ayah emang pahlawan hidup Tufah. Aku sayang ayah karena Allah. aku pergi ke kamar dulu ayah” kataku sambil mencium ayah

    Akupun pergi menuju kamar dan segera mengetik pesan untuk Zaid. Alhamdulillha Zaid bersedia untuk datang ke rumahku besok hari. Akupun memberi tahu ayahku dan segera bergegas tidur

    ***

     

    Matahari menyinari langit dengan penuh kelembutan. Kicauan merdu burung meramaikan hari ini. Hubunganku dengan ayah jauh lebih dekat dari biasanya. Zaid memenuhi janjinya untuk datang kerumahku. Ayahku menerima Zaid dengan baik. Dengan bijak dan sikapnya yang tenang ayahku menasehati Zaid dan berusaha mengembalikan Zaid pada jalan yang diridhoiNya. Segala puji bagi Allah Zaidpun untuk pertama kalinya menangis di depanku, sadar akan kekeliruannya selama ini. Akupun tersenyum lega.

    “Tufah terimakasih banyak. Maafkan aku yang membimbingmu menuju jalan yang salah. Aku sadar aku salah dan berniat untuk bernar-benar meninggalkan ajaran tersebut. Sebenarnya alasanku untuk mengajakmu itu karena aku menyayangimu semenjak kita bertemu di perpustakaan. Aku berniat untuk menyelamatkanmu tetapi ternayta kebodohanku yang membuatmu harus ikut keliru bersamaku. Sekali lagi ma’afin aku ya.” Kata Zaid berterus terang. Akupun tersenyum

    “Iya Zaid. Terimakasih sudah mewarnai kehidupanku. Semuanya pasti akan ada hikmahnya. Kamu tidak sepenuhnya salah. Kini aku tengah fokus melukiskan kebahagiaan untuk kedua orangtuaku. Aku akan terus  melanjutkan untuk menghafal ayat – ayat Al-Qur’an. Kita akan tetap menjadi saudara. Terimakasih untuk segalanya” Kataku berterus terang

    “Baiklah. Semoga cita – citamu tercapai Tufah, do’aku menyertaimu”

    “Aamiin. Dafi yang menyadarkanku. Kita bertiga akan tetap menjadi saudara. Yang selalu mengingatkan dalam kebaikan”

    Terimakasih ya Allah telah memberikanku pengalaman hidup yang sungguh sangat luar biasa. Terimakasih engkau telah menyelematkan diriku dari kesalahan yang cukup besar. Bantulah aku untuk terus melapangkan hati ini hanya untuk singgah sanaMu. Bimbinglah aku untuk tetap di jalanMu. Jalan yang engkau ridhoi. Kak Dafi, Zaid terimakasih telah mengukir tinta emas penuh hikmah di dalam kehidupanku. Takkan ada yang pergi dari hati dan hilang dari sebuah kenangan. Kita akan tetap menjadi saudara. (Syifa Nursa’adah Slamet)