Social Studies dan IPS: Kenali Dan Cintai Aku, Kawan

  • Asep Yuhana, S.T. (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2014-11-14 17:00:00 - Kategori : BERITA

    Social Studies dan IPS: Kenali Dan Cintai Aku, Kawan

    Oleh: Arinda Putri Ekawati, S.Pd.

    IPS...

    Siapa yang tak mengenal mata pelajaran yang satu ini?. Ya, IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang mau tidak mau, suka tidak suka akan kita temui di bangku sekolah. Semua orang tentu sudah mengetahui bahwa IPS merupakan akronim dari Ilmu Pengetahuan Sosial. Pada dasarnya IPS merupakan pembelajaran yang unik dan menyenangkan. Coba kita cermati, pada saat kita belajar IPS, maka dalam wadah yang sama, kita akan belajar tentang Ekonomi, Sejarah, Sosiologi-Antropologi dan Geografi serta disiplin Ilmu Sosial lainnya. IPS adalah ‘rumah’ bagi sedikitnya lima cabang Ilmu dalam rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora. Tahukah kita tentang asal mula lahirnya IPS?.

    IPS dalam sejarahnya dikenal dengan nama social studies (studi sosial) di mana ia lahir dan diterapkan pertama kali di kawasan Amerika pasca terjadinya Perang Dunia I, tepatnya sekitar tahun 1915 sekolah-sekolah dasar dan menengah di kawasan Amerika mulai menerapkan pembelajaran ini. Social Studies lahir dari sebuah pemikiran di mana para pakar pendidikan di Amerika memandang bahwa pembelajaran sosial yang terpisah-pisah antar disiplin ilmu di antaranya: Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Antropologi, Ilmu Politik dan sejenisnya, merupakan pembelajaran yang tidak komprehensif (tidak menyeluruh), sedangkan dalam memahami permasalahan sosial, fenomena dan kehidupan sosial diperlukan suatu pemahaman dan pola pandang serta pola pikir yang menyeluruh, terpadu, terarah dan saling memiliki keterhubungan satu sama lain. Social Studies inilah yang kemudian diharapkan dapat mengakomodir kem1uan subjek belajar untuk dapat mengerti dan memahami masalah serta menganalisis dan menemukan solusi dari setiap permasalahan sosial yang terjadi di sekitarnya. Lalu, adakah perbedaan antara Social Studies dan IPS?. Menurut Arthur G. Binning dan David H.Binning (1982) mengemukakan bahwa:

    “Studi Sosial adalah mata pelajaran yang berhubungan langsung dengan perkembangan dan organisasi masyarakat manusia dan manusia sebagai anggota dari kelompok sosial”

    Pendapat lainnya mengenai Social Studies dikemukakan oleh Edgar B. Wesley (1980) yang menyatakan bahwa Studi Sosial adalah Ilmu-ilmu Sosial yang disederhanakan untuk tujuan pengajaran di sekolah, sedangkan William B. Ragam (1982) menyatakan bahwa program Studi Sosial mencerminkan bahan-bahan dari berbagai Ilmu Sosial, tetapi ia juga mempergunakan bahan-bahan dari masyarakat setempat. Nah, sekarang mari kita tengok, apa itu IPS?

    IPS adalah suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan, yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam lingkungan sosialnya yang bahannya diambil dari berbagai ilmu-ilmu sosial seperti: geografi, sejarah, ekonomi, antropologi, sosiologi, politik dan psikologi sosial. Dapat juga dikatakan bahwa IPS pelajaran yang merupakan fusi atau paduan dari sejumlah mata pelajaran Ilmu-Ilmu Sosial atau IPS merupakan mata pelajaran yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari Ilmu-Ilmu Sosial (Nasution, D. 1975)

    Berdasarkan pendapat di atas, kita dapat menemukan kesenadaan antara Social Studies dengan IPS, di mana essensi utama dari Social Studies maupun IPS merujuk pada pemfusian (penyatuan) antar disiplin Ilmu Sosial yang digunakan untuk mengkaji berbagai permasalahan maupun fenomena sosial dengan manusia dan lingkungan manusia sebagai objeknya. Selain itu, baik Social Studies di Amerika maupun IPS di Indonesia, kedua-duanya ditempatkan sebagai mata pelajaran di lingkungan pendidikan formal (sekolah). Di Indonesia sendiri, IPS pertama kali diperkenalkan pada tahun 1969 oleh Prof Dr. Soepartina Pakasi pada SD PPSP IKIP Malang. Kehadiran IPS menjadi perbincangan yang menarik antara tahun 1969-1975 dikalangan para praktisi pendidikan Indonesia, dan secara resmi IPS masuk ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia pada tahun 1974 dan menjadi mata pelajaran ditingkat SD, SMP dan SLA (sekarang SMA) pada tahun 1975. Lalu, bagaimana potret pembelajaran IPS hari ini?

    IPS sebetulnya adalah salah satu mata pelajaran yang menyenangkan dan mudah, karena objek utama dari IPS adalah kita, manusia dan lingkungan sosial manusia. Hanya saja, kita harus mengakui realita di lingkungan pendidikan, IPS sering kali dipandang sebagai pembelajaran yang membosankan dan banyak berisi teori dan hafalan oleh peserta didik. Padahal tidak sepenuhnya demikian. IPS membuka peluang yang besar bagi guru maupun peserta didik untuk bisa belajar kekinian (pembelajaran kontekstual), di mana IPS dengan tema atau materi apapun, dapat digunakan untuk membedah berbagai peristiwa maupun fenomena sosial yang terjadi dari masa ke masa.

    IPS dapat digunakan untuk menyoroti berbagai bidang kehidupan manusia, karena dalam IPS kita mempelajari h1ir sebagian besar disiplin Ilmu Sosial. Apapun metode maupun model pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran IPS, saat konten IPS disajikan dengan disertai tersedianya keberagaman informasi seputar manusia dan lingkungan sosial manusia, maka hal tersebut akan ‘menghidupkan’ IPS. Pengetahuan kita akan berbagai informasi dan kepekaan kita terhadap lingkungan sosial adalah ruh bagi pembelajaran IPS, sehingga IPS menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik. IPS menjadi wahana belajar yang menantang dan mendorong tumbuhnya kem1uan berpikir kritis peserta didik, mempertajam kepekaan sosial dan menumbuhkan kesadaraan akan peran, tugas dan tanggungjawab peserta didik baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain di lingkungan sosialnya. Jadi, yuk kita kenali, sukai, nikmati dan cintai pembelajaran IPS.