My Last Tears

  • Akhri. R (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2016-06-21 17:00:00 - Kategori : BERITA

    My Last Tears

    Prolog

     “Anggiiii !!!! ” teriak  Nana. “Brukk!!”. Tertabrak mobil. Mobil itu langsung kabur tanpa bertanggung jawab.

    “Anggi ! bertahanlah! kumohon!“ Teriak Nana dengan nada terisak dan mulai menangis.

    “Nana… jangan menangis… aku tidak akan pergi… kita kan… sahabat… sejati.” Ucap Anggi yang mulai melemah.

    “Nguing nguing nguing!!” Ambulance datang untuk membawa Anggi ke rumah sakit.

    “Nana aku… cinta padamu ” Anggi pun diangkat ke ambulance, menyisakan Nana yang tidak percaya atas apa yang ia dengar dan air matanya pun bercucuran.

    “Anggi bertahan! jaga topi biru itu! untukku!” teriak Nana sambil menangis dan berharap agar sahabatnya itu selamat .  Guru pun datang untuk menenangkannya.

    ***

     

    11 tahun kemudian di sebuah k1us…

    “Firda, apa kamu yakin menolak cintaku yang tulus ini?!” Teriak Deo.

    “Iya Deooo, jangan lebay!, apa aku harus mengatakannya lagi?” Ucap Firda dengan kesal.

    “Kenapa?” Tanya Deo.

    “Aku ini Islam di agama Islam kan tidak boleh pacaran. Apa kamu tidak tahu? Bukankah kamu sama-sama Islam ?” Ucap Firda yang semakin kesal.

    “Iya aku tahu… tapi…” Ucap Deo dengan gugup.

     “Dadaaaaah!” Teriak Firda sambil berlari meninggalkan k1us.

    Saat di jalan…

    “Bruk!” Menabrak seseorang.

    “Brak!” Buku yang dibawa oleh orang tersebut jatuh berserakan dimana-mana.

    “Maaf! maafkan aku!“ Ucap Firda sambil membantu mengambil buku-bukunya.

    “Tidak apa-apa“ Ucap oang tersebut. Firda lalu menatap wajah orang yang ia tabrak, dia seperti mengenalnya dan sekaligus membuat Firda terpesona dengan ket1anannya, mata yang berbinar, senyum yang indah dan sebagainya yang m1u menarik hati semua perempuan.

    “Namaku Anggi“ Ucapnya.

    “Eh… namaku Firda“ Kata Firda sambil menunduk kepala karena malu.

    “Firda? nama itu kurang cocok untukmu yang berhijab“ ucap Anggi.

    “Nama panjangku Jannatun Firdaus“ Ucap Firda.

    “Aku memanggilmu Nana saja ya“ kata Anggi sambil terus tersenyum.

    “Iya silahkan“ kata Firda yang masih gugup.

    “Aku duluan ya, oh iya, kamu seperti sahabatku saat SMP. Assalamu’alaikum” kata Anggi sambil berjalan menjauh.

    “Wa’alaikumsalam… aaaah gantengnya, tapi tunggu dulu sahabat?“ Heran Firda atau juga Nana.

    “Ngeliat siapa tuh?!“ Seseorang datang.

    “Rena! kamu mengagetkan aku tahu!“ Kesal Firda.

    “Tahu? kalau aku suka tempe! hahaha!“ Kata Rena.

    “Rena… Mmm… Kamu tahu cowok yang tadi gak ” Tanya Firda.

    “Maksud kamu Anggi? ya tahu lah! kan dia sekelas sama aku! kamu pasti suka yaaa… s1ai nanyain, tapi kalau dia banyak saingannya kalau mau dapat cintanya “ Kata rena terus terang.

    “Ah! Diam! Dia cuman mirip  kok sama sahabat aku waktu SMP namanya juga sama, Anggi, tapi sahabatku itu sudah meninggal karena ia sudah lama tidak kembali ke sekolah ” ucap Firda kesal. Lalu ada dosen baerlari-lari mengh1iri Firda.

    “Firda ,kamu bisa gak ngajarin  anak-anak S1? Ibu lagi banyak urusan” kata dosen tersebut.

    “Bisa kok Bu! Memangnya apa yang gak bisa buat anak didikan S2 ini? Habis istirahat kan bu? ” kata Firda.

    “Iya makasih!” kata dosen tersebut sambil kembali berlari. Selama berhari- hari Firda terus memikirkan Anggi, dia seperti berada di garis kebingungan dan jatuh cinta, hingga suatu hari...

    “Nana!” teriak Anggi.

    “Eh ada apa Anggi?” Tanya Nana atau Firda.

    “Ajarin aku Aljabar dong!” Minta Anggi.

    “Eh? Itu kan pelajaran SMP? Kok kamu gak bisa, kamu kan ngambil jurusan matematika!” heran Nana.

    “Mmm… sebenarnya ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu, di bawah pohon itu ya!” ucap Anggi sambil menunjuk pohon beringin, setelah s1ai…

    “Nana, mau gak jadi pacar aku?” Tanya Anggi.

    “Apa!! Mmm… maafkan aku ya Anggi, aku gak bisa, aku gak mau pacaran, lagipula aku mau ngelanjutin S3 aku ke Inggris dan kita kan baru kenal” kata Nana sambil menunduk

    “Ya sudah aku gak maksa kok! Aku pergi dulu ya” kata Anggi sambil berjalan dengan menunduk tapi dari ekspresi wajahnya dia seperti mau mengatakan sesuatu kebenaran tentang dirinya. Sementara itu Nana sangat sedih dan ingin menangis. 1 tahun kemudian, Nana sudah lulus dari S3 nya dia sudah pulang ke Indonesia dan dia sekarang sedang berada di taman bandara untuk menunggu jemputan dan sambil melamun memikirkan Anggi yamg ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Tapi tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki memakai topi biru yang dia buat, khusus untuk sahabatnya yang sekarang sudah… meninggal…

    “Permisi!  permisi! permisi!” teriak Nana sambil mengejar laki-laki tersebut. Laki-laki itu melihat ke s1ing sehingga setengah dari wajahnya terlihat, dan ternyata dia……

    “Firda! Ayo kita pulang!” ajak Rena yang ternyata menjemput Nana. Namun Nana belum sempat memanggil dia untuk meminta kebenaran. Di mobil…

    Sebenarnya diai itu siapa? Kenapa aku merasa ingin mendapatkannya untuk bersamaku? Ya Allah tolonglah aku…”gelisah Nana dalam hati, Rena yang melihat Nana merasa khawatir . Seminggu kemudian…

    Firda! Ayo ke bawah ada temanmu pakai baju panjang dan kerudung ya!” teriak ibu Firda

    “Iya bu!” teriak Firda dari kamarnya yang berada di lantai 2. Dia turun dan bertemu dengan temannya itu tapi yang ia dapati adalah orang yang ia lihat di taman bandara dengan topi biru sahabat Firda

    “Ada apa kau kesini!? Dari mana kau dapatkan topi itu?!” Tanya Nana

    “Nana, aku mendapatkan topi ini dari sahabatku yang bernama…………… Jannatun Firdaus” Katanya, seketika itu juga Nana terasa terguncang, tidak mengira bahwa sahabat yang ia sayangi dan sudah ia anggap meniggal sudah berada dihadapannya. Air matanya mulai bercucuran

    “Bagaimana… bagaimana kau bisa mebohongiku! kenapa kau melakukan ini!” kata Nana sambil menangis menghadapi kebenaran dan ia terasa ingin memeluknya

    “Maafkan aku, tapi dari persahabatan kita ini menumbuhkan rasa cinta padaku. Maukah kau menikah denganku?” Tanyanya sambil berjongkok dihadapan Nana dan menyodorkan sebuah cincin padanya.

    “Dari semua kebohongan ini kau malah mengajak aku menikah? ...... baiklah aku terima tawaranmu Anggi” kata Nana yang masih menangis, akhirnya mereka menikah dengan bahagia. (Haliza Norma Nurhansyah)