Kunci Kesuksesanku

  • Ridho Hamzah, M.Pd. (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2017-08-18 14:54:45 - Kategori : BERITA

    Kunci Kesuksesanku

    Karya:

    Syifa Nursya'adah

    (Scen 1)

    Di pagi hari yang cerah seluruh siswa-siswi di Indonesia termasuk SMP Islam Cendekia Cianjur mengikuti upacara di tempat masing-masing. Kalian tau itu hari apa? Ya, hari senin, pada hari senin seluruh sekolah yang ada di Indonesia serentak melaksanakan upacara bendera. Kami mengikut jalannya upacara bendera dengan khikmat. Upacara pun selesai, sebelum pasukan dibubakarkan kepala sekolah dengan wajahnya yang berseri-seri dan penuh semangat mengumumkan tentang prestasi yang baru didapatkan oleh peserta didik di sekolah kami. Peserta didik yang berprestasi tersebut pada bidang olahraga, lebih tepatnya lagi yaitu clubfutsal. Prestasi yang diraih oleh club futsal SICC pada turnamen Nasional tahun 2014 yang diselenggarakan di Gelora Bungkarno Jakarta dengan peserta 180 club perwakilan dari beberapa kabupaten dan kota se Indonesia termasuk Club futsal SICC yang mewakili Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Club futsal SICC berhasil meraih juara ke-2 tingkat Nasional.

    Seluruh siswa-siswi bertepuk tangan sangat meriah. Mereka pun dengan bangga maju ke depan dan memberi sedikit kesan dan pesan yang dilihat oleh ratusan pasang mata, mereka pun langsung menerima piala dan beberapa penghargaan yang tak ternilai harganya. Saking senangnya mereka loncat-loncat kegirangan. Dwisya memperhatikan orang yang sedang memegang piala besar itu, dia termotivasi untuk menyusul mereka. “Hmm.. kapan yaa aku bisa jadi seperti mereka, bisa mendapat penghargaan dan berbicara di depan ratusan pasang mata yang melihat, tapi apa yang aku punya? Aku tidak punya keahlian khusus seperti mereka, gak mungkin ah.. Itu hanyalah harapan yang paling bodoh yang pernah ada.” Keluh Dwisya dalam hati kecilnya. Pasukan pun dibubarkan tapi Dwisya tetap berdiri dalam lamunannya, beruntung salah satu temannya menyadarkan Dwisya, tidak lama dia pun bangun dari lamunnannya dan meninggalkan lapangan upacara bersama Syirha. Apakah Dwisya berhasil memenuhi harapannya itu? Ikuti perjalan Dwisya di...

    Syirha:        Dwisya!! Kamu mengapa??

    Dwisya:      (menoleh ke arah Syirha) hah..sudah selesai upacaranya? (cengengesan sambil menggaruk-mengaruk kepalanya kebingungan).

    Syirha:        Yah... malah balik nanya dari tadi juga sudah selesai kalii...

    Dwisya:      Hmm.. Maaf aku nya lagi gak konsen (Dwisya menundukkan kepala)

    Syirha:        Hmmm..Dwisya-Dwisya selalu saja melamun, mikirin apaan sih??

    Dwisya:      Nothing..ayoo cepat kita ke kelas.. (sambil menarik tangan Syirha dengan sedikit berlari)

    Syirha:        eh..tunggu..! (syirha pun mengikutinya)

     

    Setibanya di kelas Dwisya dan Syirha pun duduk di bangkunya masing-masing. Dwisya masih memikirkan kejadian di lapangan tadi “hmm.. Tuhan mengapa yaa mereka bisa mendapatkan penghargaan? Minggu lalu pun Syirha meraih kejuaraan di bidang musik, dengan piano dan jari-jarinya dia bisa mendapatkan juara ke-1 se Kabupaten Cianjur. Lah..aku bisa nya apa? Aku tidak punya modal untuk jadi anak berprestasi. Nilai ku juga paling besar hanya 8 atau 8,5 paling 9 juga hanya sedikit. Hmm.. sudahlah itu hanya harapan yang mustahil buat aku..” keluh Dwisya di dalam hati kecilnya.. Akibat melamun dia tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik..

    Syaqira:      Dwisyaa… ! Apakah kamu  sakit? (panggil Syaqira pelan)

    Dwisya:      Tidak.. (sambil menggelengkan kepala)

    Syaqira:      Kamu kenapa tumben banget jadi pendiam? Ada masalah?

    Dwisya:      Gak ada apa-apa kok..

    Syaqira:      Bener nih..cerita aja, mungkin aku bisa bantuin kamu, kita pasti bantu…

    Dwisya:      Makasih yaa..tapi aku lagi gak kenapa-kenapa kok.

    Syaqira:      Aku tidak akan memaksa mu untuk bercerita. Tapi please untuk 10 menit terakhir kita belajar dengan baik, aku ingin melihat kamu konsen dan ceria lagi.!

    Dwisya:      (mengacungkan jempolnya dengan mantap)

     

    (Scen 2)

    Bell pun menyala berarti jam pelajaran pertama selesai dan ini waktunya istirahat.. Dwisya, Syirha, Syaqira dan Annisa pun keluar menuju kantin, mereka bersahabat, mereka adalah sahabat paling kompak dan asik. Syaqira Al-Dawiyyah Nur Thoyibah, anaknya kalem, dia pun anak yang bisa dibilang  matematikawan. Terbukti dia selalu menang setiap mengikuti olimpiade matematika, dia sering mengikuti kegiatan rohis. Syirha Zahara Haniifah sicantik berkulit manis, anaknya lembut dan tidak suka pilih-pilih teman she is a smart girl dia pun pintar memainkan piano s1ai-s1ai setiap orang yang melihat piano dan jajri-jarinya bermain dia selalu berhasil membuat pendengarnya terkagum-kagum s1ai meneteskan air matanya. Annisa Nazwatun Syarifah she is a smart girl, dan dia juga mempunyai rasa percaya diri yang cukup bagus, dia cukup handal dibagian biologi, dan terbukti pernah mendapatkan kejuaraan sains. Dwisya Faadhilah Nurkamiilah si cantik berkulit manis, tomboy tapi anggun, dia juga friendly, pintar dan cukup rajin hanya saja dia selalu mudah putus asa dan tidak percaya diri. Mereka semua mempunyai keahlian dan karakter yang berbeda-beda tapi mereka ber 4 selalu kompak, mengapa? Yaa.. Karena mereka selalu melengkapi 1 sama lain dan selalu menghargai teman tanpa melihat keadaan orang tuanya meski orang tua mereka adalah seorang pengusaha besar di Indonesia, bagi mereka status orang tua tidak harus dinomor satukan.

    Syaqira:      “Sebenernya mengapa sih si Dwisya sekarang selalu melamun..?”

    Annisa:       “Baru tau ya? Dia tuh sudah ahli dalam melamun dari abad ke 18 kali”

    Dwisya:      “Gak lucuu… ! (keluh Dwisya)”

    Annisa:       “Only Kidding Guys !”

    Syirha:        “Annisa !! Bercanda boleh tapi gak boleh berlebihan..”

    Dwisya:      “Iyaa nih, berlebihan tau.. (keluh Dwisya kesal)”

    Annisa:       “Iyaa deh..sorry yaa.. gak bakal diulang lagi  deh.. (Sambil cengengesan)”

    Syaqira:      “Tapi kalau kamu ada apa-apa kami bertiga siap mendengarnya, kita akan mencari jalan keluar bersama-bersama.”

    Dwisya:      “Makasih ya Ra, kalian yang membuatku menjadi lebih baik!” (Sambil tersenyum)”

    Annisa:       “Nah inibarunamanyasahabat… (Sambil semangat)”

    Syirha:        “Terimaksih ya Allah sudah mempersatukan kami menjadi sahabat yang selalu bisa melengkapi satu  sama lain” (Syirha sambil tersenyum)

    Syaqira:      “Semoga kekompakan kita tidak hanya sementara… (Syaqira tersenyum dan di ikuti yang lainnya)

    Syirha:        “Aamiin yaarabbal’alamin, tapi guys waktu istirahat kita tidak lama, aku sudah lapar.” (kata Syirha sambil memegang perutnya)

    Syaqira:      “Iyaa nih aku juga sudah lapar..let’s go  to the canteen !” (Ajak Syaqira)

     

    (Di kantin mereka memesan makanan dan duduk ke tempat yang mereka pilih sambil membawa pesanan mereka masing-masing..)

    Annisa:       “Guys.. ! apa yang akan kalian lakukan untuk 3 s1ai 8 tahun mendatang?”

    Dwisya:      “Annisa, aku gak salah mendengar kan..(melepaskan sendok dan garpunya)

    Annisa:       “Ya, kamu gak salah mendengar, emang ada yang salah kalau  aku nanya kayak gini”

    Dwisya:      “Gak salah sih hanya terkejut mendengar pertanyaan kamu yang gak kayak biasa, habis ketemu siapa kamu”

    Annisa:       “Emang pertanyaan ini harus dilontarkan setelah berpasang muka dengan orang yang selalu memberi motivasi… gak juga kali”

    Dwisya:      “Hee heh iyaa.. iyaa.. nyerah deh, nyerah” (sambil cengegesan)

    Syirha:        “Wa ha ha ha kalian ada-ada aja deh..hi hih”

    Syaqira:      “Oke, yang akan aku lakukan untuk 3 tahun ke depan adalah, setelah lulus dengan nilai yang memuaskan aku ingin masuk GONTOR 1 dan mendapatkan beasiswa dan aku punya keinginan untuk memberi sebuah paket umrah untuk ummi dan abi”

    Syirha:        “Aku berniat untuk melanjutkan sekolah ke sekolah musik aku ingin lebih    memantapkan permainan pianoku. Setelah masuk aku ingin membuat konser yang sangat besar dan spektakuler. Di sana aku akan memainkan satu buah karya pertamaku dengan menggunakan grand piano favoriet ku.. Bagaimana dengan mu Annisa?”

    Annisa:       “Aku ingin lulus dengan nilai tertinggi minimal se-Jawa Barat, aku ingin menjadi pemain bola yang profesional dan tentunya aku ingin loncat kelas di SMA ku nanti dan berniat untuk pergi haji bersama keluarga”

    Dwisya:      “Aaamiinnn... Semoga harapan dan target kalian tercapai sesuai dengan keinginan”

    Syirha:        “Aamiinn.. Bagaimana dengan targetmu Dwisya”

    Dwisya:      “Aku belum pasti dengan ini. Hal pertama yang aku akan lakukan berusaha untuk membuat ayah dan bunda bangga kepadaku dengan perubahan dan membuang kebiasaan jelekku dengan perlahan.”

    Syaqira:      “Ini yang aku tunggu dari kamu Dwisya!! Kita akan membantumu untuk mewujudkan keinginanmu... iyaa kan guys?” (Syaqira memantapkan)

    Annisa:       “Why not” (sambil mengangguk dengan mantap)

    Syirha:        “kita semua akan mendukungmu.. asal dengan niat baikmu yang kuat kamu pasti bisa!” (Seru Syirha)

    Dwisya:      “Thank you all.. kalian emang sahabat yang paling care.. thank youu” (semua nya melepaskan senyumannya berarti setuju)

    Syirha:        “Kayaknya kita harus segera ke kelas” (Sambil melihat jam tangannya)

    Annisa:       “Oke, sebentar lagi pelajaran terakhir akan mulai. Kekasir yuk guys!“ (Ajak Annisa)

    Syirha:        “Sini biar aku yang bayar.”

    Syaqira:      “Eits..gak usah don’t bother your self !

    Annisa:       “Ya..don’t bother your self Syirha..! lagian kita masih ada uang kok.”

    Syirha:        “Santai aja lagi, lagian aku belum pernah traktir kalian kan.

    Dwisya:      “bener nih..serius?”

    Syirha:        “Iyaa..beneran.”

    All:             “Arigato Gozaimasu Rha”

    Syirha:        “Siip.”

     

    (SCEN 3)

    Sepulang sekolah mereka berencana untuk pulang bersama, karena rumah mereka lumayan berdekatan, tapi sekarang mereka berhenti di suatu tempat yang tidak asing bagi mereka, di sini tempat yang sering di kunjungi oleh mereka.

    Syaqira:      “Capek juga yaa !” (keluh Syaqira sambil duduk di bangku).

    Annisa:       “Iyaa nih lumayan.”

    Syirha:        “Akhirnya s1ai juga di tempat ini.”

    Syaqira:      “Dwisya mana?”

    Annisa:       “Katannya dia akan menyusul.”

    Syirha:        “Itu Dwisya !!” (seru Syirha sambil menunjuk kearah Dwisya)

    Dwisya:      “Nih, minuman untuk kalian.” (Dwisya mengh1iri meraka dan menaruh minuman itu)

    Annisa:       “Terimaksih banyak Dwisya, maaf ngerepotin entar aku ganti yaa.”

    Dwisya:      “Iya sama-sama, Gak usah diganti aku sengaja membelikan ini untuk  kalian.

    Syaqira:      “Terimakasih banyak.”

    Syirha:        “Iya sama-sama”

    Annisa:       “Whahhahah..Aneh banget sih kamu, ada-ada aja.” (Syirha pun hanya cengengesan)

    Syaqira:      “Guys... udah lama aku menantikan jawaban dari Dwisya”

    Dwisya:      “Jawaban apa Ra”

    Syaqira:      “Jujur.. Aku aneh banget liat kamu jadi pendiam seperti ini, ada apa?”

    Dwisya:      “Sebenarnyaaa... aku malu kalau bercerita tentang ini.”

    Syaqira:      Ya 1un, mengapa harus malu sih? Kayak yang baru kenal aja”

    Dwisya:      Bukan begitu. Aku ingin sekali jadi BINTANG SEKOLAH, itu saja, tapi aku gak punya kelebihan apa-apa.”

    Annisa:       Kamu punya bakat kok... Bakat Melamun yang saaangat superrr...”

    Dwisya:      “Ohh.. Gitu yaa, jadi menurut kamu tuh aku hanya bisa melamun gak jelas gitu.. Asal kalian tau.. aku tuh IRI SAMA KALIAN.. kalian itu punya potensi sedangkan aku,   apa coba, aku gak punya apapun si Annisa pun bilang aku hanya bisa melamun.. Dia benar, ini hanya mimpi yang paling mustahil dan paling bodoh bagi aku..mengapa Tuhan tuh gak adil sama aku” ( Dwisya menangis dan pergi meninggalkan mereka)

    Annisa:       “Dwisyaaa... tunggu bukan itu maksud aku.” (Tapi Dwisya tetap pergi)

    Syirha:        “Percuma kamu mengejarnya, dia sudah jauh. Mengapa kamu harus berbicara seperti itu, jadi kan Dwisyanya salah faham!”

    Annisa:       “Aku merasa bersalah sama dia. Dia tuh ingin seperti kita, tapi bodohnya aku malah menyakitinya. Padahal bukan itu maksudnya, aku begitu keterlaluan.” (Annisa menyesal)

    Syaqira:      Sudah.. Biarkan Dwisya menenangkan hatinya, baru besok kamu bereskan   kesalahfahaman ini.. Aku yakin kamu bisa guys.”

    Annisa:       “Tapi aku sudah membuatnnya menangis seperti itu, itu hanya harapan bodoh.” (Annisa putus asa)

    Syaqira:      “Dia orangnya pemaaf, apa lagi kamu kan sahabatnya, masih ada harapan,  Jadi kamu harus bersabar dan tetap terus berusaha untuk mendapatkan ma’af dari Dwisya”

    Annisa:       “Thank youu guys..besok akan aku coba.. tapi kalian bantuin aku oke..”

    Syaqira:      “of crause, kita bakalan bantuin  kamu.” (Syaqira dan Syirha pun tersenyum mantap)

    Syirha:        “Oke guys, udah sore nih.. kita pulang yuk..” (mereka pun pergi meninggalkan tempat itu)

     

    (SCEN 4)

    Dwisya pun menangis dan pergi meninggalkan mereka. Annisa sangat menyesal atas apa yang sudah dia lakukan, dia akan meminta maaf besok pagi. Bagaimana dengan Dwisya? Dan dengan cara apa Annisa meluluhkan hati Dwisya untuk membuka pintu  maafnya?

    (Di Rumah Dwisya)

    Dwisya (Duduk di meja belajarnya dan menulis):

    “Dear diary. Ya Allah.. Betapa Indahnya cobaanku ini, aku kira mereka akan membantuku untuk menggapai harapan ini. Tapi apa buktinya mereka malah merusak harapanku. Si Annisa malah menyindirku, sakit hati pasti ada, tapi diary tekad ini tidak akan pernah hilang. Aku akan terus berusaha untuk menemukan jati diriku yang terpendam selama ini. Aku tidak boleh lemah, aku sudah lama untuk menantikan ini. Jadi apapun masalah di depan, aku harus kuat, aku harus menghapuskan kebiasaan jelekku, dengan berjalannya waktu semuanya akan terwujud. Diary doa kan aku yaa..

    Cianjur, 08 April 2014.

     

    Ttd.

     

    Dwisya

     

    Si Dwisya yang ngebet banget ingin jadi BINTANG SEKOLAH. (dia pun tertidur di meja belajarnya)

    Keesokan harinya Dwisya pergi ke sekolah menggunakan sepeda. Hari ini dia tidak sarapan karena takut kesiangan dia sangat gelisah karena kejadian kemarin sore, mungkin mereka akan menjauhinya, itu yang ada dipikirannya sekarang. Dia memakirkan sepedanya dan pergi menuju kelasnya. apa yang akan sebenernya terjadi? Tetap di..

    Syirha:        “Dwisyaaa !! tunggu !” (syirha mengh1iri Dwisya)

    Dwisya:      “Ada apa?”

    Syirha:        “Kamu masih marah yaa sama kita, ma’afkan kita ya..kita emang keterlaluan. Kita    menyesal.”

    Dwisya:      “hmmm..Ayoo ke kelass !”

    (Di kelas)

    Annisa:       “Ohayou Gozaimasu guys.. !(Mendekati Dwisya dan Syirha yang sedang membaca)

    Syirha:        “Ohayou Gozaimasu Nis”

    Annisa:       “Dwisya kamu masih marah sama aku. Please maafkan sahabatmu yang kece ini..please maafkan aku..” (Annisa memohon tapi Dwisya tetap diam)

    Syirha:        “Maafin dong Sya..please.. dia menyesal sya,dan dia tulus lhoo minta ma’af. Hmm..”          

    Dwisya:      “Mengapa harus minta maaf, kamu bener kok Rha, aku cuman punya keahlian dalam melamun aja..gak seperti kamu yang mempunyai kelebihan” (Syirha pun pergi)

    Annisa:       “Tapi sya, bukan begitu maksudnya” (tapi Syirha tetap pergi meninggalkan mereka)

    Syirha:        “Hmm, mungkin dia hanya perlu waktu Nis..aku yakin sebenernya dia itu pemaaf, sabar guys! eh kamu belum sarapan yaa s1ai bawa kotak sarapan”

    Annisa:       “Oh, ini bukan buat aku  tapi buat Dwisya, tadi aku ngelewat rumahnnya dan dia keliatan buru-buru dan sangat gelisah aku tau pasti Dwisya itu belum sarapan, makanya aku bawaain sandwich sama susu coklat ini, tapi dia ternyata masih tersinggunng sama kata-kata aku kemaren”

    Syirha:        “hmm..jadi sayang makananya, kamu simpan aja di bawah bangkunya Dwisya”

    Annisa:       “Oke” (menulis sesuatu di atas kertas yang sudah dia sobek dan di letakkan di atas tempat sarapannya)

    Syaqira:      “Pagi guys, gimana Annisa sudah meminta maaf belum?”

    Annisa        : “Minta ma’af sih udah, tapi dia nya malah pergi”

    Syaqira        : “hmm..tetap berusaha ok, aku yakin kita bisa akur lagi”

    Annisa        :” Semoga saja..”

    Syirha         : “Guys.. Aku mau nyusul dulu Dwisya ya”

    Syaqira        : “Ya udah, ini kesempatan buat kamu Nis..kita susul bareng-bareng, aku tau tempat yang dia suka kunjungin kalau dia lagi sedih”

    Annisa        : “ok, ayoo !” (sambil membawa kotak makannya)

    (mengh1iri Dwisya yang sedang di taman dan membaca Novel)

    Annisa        : “Dwisya.. Ma’afin aku ya, aku mohon tolong ma’afin aku” (Annisa memohon)

    Dwisya        : “Gimana yaa..”

    Annisa        : “Ayolaahh, aku janji bakalan lebih menjaga mulutku ini untuk tidak menyakiti kamu lagi”

    Dwisya        :” whahah, benar yaa.. Lagian aku udah ma’afin kamu, tapi aku cuman mau sedikit ngerjain kamu..hehehe”

    Annisa        : “ Yah, Dwisya kamu masih sempet-sempetnya ngerjain aku, membuat aku gelisah karena aku belum dapat maaf dari kamu, tapi gak apa-apa deh yang penting Dwisya nya gak marah lagi sama aku, Makasih banyak yaa”

    Dwisya        : “Iyaa, maafin aku juga yaa”

    Annisa        : “ Eh, aku tau kamu belum sarapankan.. nih buat kamu itung-itung buat tanda maaf aku ke kamu”

    Dwisya        : “ bener nih? Emang sih aku belum sarapan”

     

    Annisa        : “Iyaakan, itu khusus aku buatin sandwich and milk nya buat kamu”

    Dwisya       : “Thank you”

    Syaqira        : “Nah gitu dong akrab lagi, ini baru namanya sahabat”

    Syirha         : “Pertahankan, Dwisya kita akan bantuin kamu untuk mewujudkan mimpi mu itu”

    Syaqira        : “Nih sya..aku punya majalah yang baru kemaarin sore datang isinya tentang anak-anak yang berprestasi, mungkin ada yang bakat yang cocok untuk kamu”

    Dwisya       : “ Makasih guys.. kalian emang paling mengerti aku..” (semuanya sambil menebar senyuman)

     

    (Scen 5)

    Akhirnya merekapun akrab kembali. Sambil menghabiskan waktu istirahanya Dwisya pun membaca majalah yang baru diberi pinjam oleh Syaqira, padahal Syaqira belum membaca isi majalah tersebut, mereka sangat bisa melengkapi 1 sama lain.Dwisya pun membuat beberapa daftar di buku diarynya, ada 18 kegiatan yang dia pilih untuk mencari bakat yang selama ini terpendam.. hal pertama yang dia akan pilih adalah menjadi  Pesilat, dia berminat untuk masuk kedalam eskul tersebut. Apakah Dwisya akan berhasil? Ikuti kisah nya di...

    (Di Kelas)

    Dwisya       : (Menulis Diary) “Dear diary, hari ini aku akan memulai mencari potensi yang selama ini belum aku temukan, do’akan aku ya diary. Syaqira memberikan aku sebuah majalah baru ternyata isinya tentang anak-anak yang mempunyai bakat dan berprestasi, aku sangat bersamangat untuk memulainya, yang aku pilih itu banyak diary, tapi yang pertama kali aku pilih adalah menjadi seorang Pesilat  yang luar biasa, aku akan sedikit tomboy kayaknya.. hahah diary do’akan aku yaa.. 9,April, 2014 Dwisya si calon master pesilat”

    Syirha         :  “Kamu sedang menulis apa Dwisya?” (Duduk di s1ing Dwisya)

    Dwisya       : “Bukan apa-apa kok, hanya sekedar iseng-iseng aja. Apakah kamu bisa membantu ku Syirha?”

    Syirha         : “Selagi aku bisa why not? Emang ada apa?”

    Dwisya       : “Mungkin ini bodoh, aku berminat untuk masuk silat”

    Syirha         : “Apakah Kamu serius dengan pilihanmu?”

    Dwisya       : “Yaa, sudah sejak lama aku ingin masuk silat, Tapi waktu itu aku belum yakin”

    Syirha         : “Oh begitu.. Ayo kita temui Bu Nail!”

    Dwisya       : “Lhoo, kok Bu Nail sih, guru kelas 8 itu?

    Syirha         : “Ya, Bu Nail itu yang membingbing anak-anak silat”

    Dwisya       : “Oh, tolong temani aku untuk menemui Bu Nail”

    Syirha         : “OK, kita kesana tadi aku lihat Bu Nail sedang di ruang guru”

    Dwisya       : ”Lets go !” (dengan penuh semangat)

    (Di kantor)

    Dwisya dan Syirha : “Asslammuaalaikum Bu Nail”

    Bu Nail            : “Waalaikummussallam warahmatullah.. Ada apa?”’

    Syirha              : “ Gini pak, Dwisya berminat untuk gabung di eskul Silat.”

    Dwisya             : “Iyaa pak, saya berminat untuk mengikuti eskul silat ini, apakah masih bisa?”

    Bu Nail            : “Tentu, karena kamu punya keinginan dan semangat yang patut di anjungi jempol, kamu boleh masuk eskul itu dan kamu bisa memulainya nanti siang”

    Dwisya        : “Benarkah itu bu? Terimakasih banyak bu, terimakasih”

    Bu Nail       : “ Ibu tunggu kamu di lapangan sekitar jam 3, Dwisya bawa baju OR?”

    Dwisya        : “Iya bu saya bawa.. sekali lagi terimakasih atas kesempatannya, kami harus ke kelas bu, assallammuaalaikum”

    Bu Nail       : “Iya silahkan, waalaikummussallam wr.wb”

     

    (SCEN 6)

    Dwisya diterima di eskul Silat, dia begitu senang dan sangat semangat. Syirha pun tidak kalah semangat mendukung Dwisya agar menemukan bakat yang selama ini terpendam. Setelah jam pelajaran selesai Dwisyapun langsung mengganti bajunya dan pergi kelapangan,dia sangat menikmati aktivitas – aktivitas yang ada di eskul itu. Sudah 4 kali pertemuan yang Dwisya ikuti, Hari ini adalah pertemuan ke 5. Tiba-tiba sesesuatu terjadi kepada Dwisya Akibat dia kurang hati-hati kaki nya keseleo saat melakukan gerakan-gerakan sillat, luka nya cukup serius Dwisya pun di bawa ke ruangan kesehatan sekolah dan ditangani oleh dokter sekolah. Ke 3 sahabatnya begitu panik dan langsung menuju ruangan kesehatan. Bagaimana keadaan Dwisya sekarang? Tunggu cerita selanjutnya di..

    Syirha         : “Assallammuaalaikum, Dwisya bagaimana kondisimu sekarang” (Syirha Panik)

    Dwisya       : “Waalaikummussallam wr.wb, yaa seperti yang kamu lihat sekarang, aku terbaring lemah di ranjang ini.”

    Syaqira       : “Penting guys ! ini tuh awal untuk kamu agar menjadi pesilat yang hebat”

    Dwisya       : “Tidak, aku tidak mau lagi mengikuti eskul itu. Aku gak mau masuk lagi” (Dwisya putus asa)

    Annisa        : “lhoh kok gitu Dwisya? Jangan putus asa begitu dong” (Annisa membujuk)

    Dwisya       : “Tidak, Silat bukan yang terbaik untuk ku.”

    Syaqira       : “ Ya sudah kalau itu pilihanmu. Sekarang mending kamu fokus dulu sama kesehatanmu, nanti kita akan mengajak ke suatu tempat yang asik, di sana banyak kegiatan yang seru dan bermanfaat untuk kita”

    Dwisya       : “Oya? Emang kita mau  ke acara apa?”

    Syaqira       : “Pokok nya ada deh, besok lusa kita pergi ke sana, semoga kaki kamu udah bisa jalan”

    Annisa        : “ Gimana masih sakit atau sudah mendingan?”

    Dwisya       : ” Udah mendingan sih tapi masih agak sakit”

    Syirha         : “Oh, Get well soon yaa”

    Dwisya       : “Thankyou”

     

    (SCEN 7)

    Dwisya memilih keluar dari eskul itu, sifatnya yang selalu putus asa membuat dia jadi tidak bersemangat lagi. Syirha tidak mau melihat sahabatnya seperti itu,  makanya Syaqira mengajak Dwisya, Syirha, dan Annisa ke suatu acara dia yakin acara itu bisa membuat Dwisya lebih kuat dan tidak mudah putus asa. Hari ini Dwisya dan sahabatnya akan pergi ke acara tersebut, mereka memutuskan untuk bertemu di tempat yang biasanya  Apakah yang akan terjadi setelah Syaqira mengajak Sahabatnya pergi keacara tersebut?

    Syirha         : “Semangat banget nih, by the way udah pada siap?”

    Annisa        : “Sebenarnya kita mau kemana?”

    Syaqira       : “Hari ini kita akan mengikuti kegiatan Islami, lebih tepatnya lagi ROHIS”

    Syirha         : “Oya? kebetulan aku ingin sekali mengikuti kegiatan ini.. pasti seru!” (Syaqira Semangat)

    Annisa        : “Benertuh, ketika aku liburan di rumah nenek aku pernah mengikuti kegiatannya, asik banget kegiatannya”

    Dwisya       : “Aku jadi penasaran.. Ayoo kita berangkat !” (Dwisya tidak sabar)

    Syaqira       : “syukur deh, kalau kalian semua ingin ikut dan bersemangat, hari ini di ROHIS ada tamu spesial yaitu seseorang yang sangat menginspirasi”

    Annisa        : “Oya? Kamu tau dari mana rha?”

    Syaqira       : “Aku kan aktif di ROHIS,aku meminta izin untuk mengajak kalian ke acara ini, dan alhamdulillah dia mengizinkanya.. oke guys, berangkat yuk”

    Syirha         : “Lets go !”

     

    (SCEN 8)

    Merekapun menuju sebuah tempat yang begitu Indah dan tenang, meskipun banyak  orang yang hadir di tempat itu semuanya tertib dan tidak ricuh, kami pun memasuki sebuah ruangan lengkap dengan infocus dan di sana seseorang sedang berdiri di depan kami, dan orang itu sudah tidak asing lagi di mata mereka, beliau adalah orang yang sangat membuat para pemuda-pemudi muslim lebih semangat lagi untuk memperdalam ajaran islam, tidak hanya para anak-anak muda beliau juga hadir di tengah masyarakat umum siapa lagi kalau bukan “Abdullah Gymnastiar” atau yang sering di sapa dengan panggilan aa Gym. mereka sangat antusias sekali mengikuti jalannya kegiatan tersebut s1ai tidak terasa 85 menit sudah mereka habiskan di tempat yang sangat super itu, mereka sangat merasakan hal-hal positive yang baru saja masuk kedalam tubuhnya begitu juga dengan Dwisya dia menjadi lebih semangat mejalani hidupnya dan dia telah menyadari kalau sifat nya yang selalu putus asa akan selalu menghalangi kesuksessannya. Merekapun pulang dengan membawa semangat baru dan keyakinan yang kuat untuk memperdalam ajaran islam. Dan semenjak mereka mengikuti kegiatan itu  persahabatan mereka menjadi lebih baik dan aktivitas merekapun sering diisi dengan aktivitas yang berbau islami. Bagaimana dengan dwisya? Bagaimana dengan Dwisya, apakah dia melanjutkan keinginannya atau kandas di tengah jalan? Tetapi di..

    Dwisya        : “Dear diary, seminggu yang lalu syaqira mengajakku untuk menghadiri sebuah acara yang ternyata acara tersebuut dipimpin oleh seorang yang sangat familiar di kalangan masyarakat umum dan kalangan anak muda, beliau adalah “Abdullah Gymnastiar” berkat kata-kata dan cerita beliau kita jadi lebih paham lagi betapa berartinya hidup ini, dan persahabatan kami jadi lebih perfect dan penuh dengan hal-hal yang mengandung islami.

    Cianjur, 16 April 2014

     

    Ttd.

    si Dwisya yang ingin menjadi

    wanita shalihah dan sukses ! J”

     

    Dwisya Mom’s        : “Dwisyaa.. ada telfon untukmu.”

    Dwisya        : “Iya bunda.. Emang ada telfon dari siapa ?”

    Dwisya Mom’s        : “Syaqira yang menelfonmu.. cepat angkat !”

    Dwisya        : “Terimakasih bunda.” (sambil mengangkat telfon)

    Syaqira        : “Assalammuaalaikum wr. wb Dwisya?”

    Dwisya        : “Waalaikummussallam wr.wb ada apa ya ?”

    Syaqira        : “Gini, aku ingin mengajak kamu untuk menjadi salah satu member di club Mading school.”

    Dwisya        : “Mading school? Mengapa kamu mengajakku?”

    Syaqira        : “Mungkin bakat kamu ada di sana, secara kamukan unggul pada Bahasa Indonesia, dan kamu tuh paling enteng kalau disuruh tulis menulis. Menurutku bu Chansa akan mendukungmu.”

    Dwisya        : “Sebenarnya aku ingin masuk club itu dari SD tapi belum kecapai, besok aku mau mendaftarkan diri untuk join ke club itu”

    Syaqira        : “Siip kalau gitu, dengan senang hati aku akan membantumu, semoga ini adalah yang terbaik untuk kamu”

    Dwisya        : “Terimakasih banyak, ady besok aku kembaliin majalahmu”

    Syaqira        : “Oh, iyaa, iyaa santai aja, tumben biasanya kalau majalahnya udah kusut baru di kembaliinya... hihi kidding yaa”

    Dwisya        : “Hi hi hi, jadi malu deh... kan sekarang Dwisyanya sudah berubah”

    Syaqira        : “Aku bangga punya sahabat sepertimu Dwisya, sekarang kamu lebih shalihah, cantik lagi..”

    Dwisya        : “Hmm.. aku tidak bisa seperti ini kalau tanpa kalian, kalian yang selalu membantuku untuk mejadi pribadi yang lebih baik”

    Syaqira        : “Itulah sahabat, oya sudah dulu yaa. S1ai bertemu di sekolah besok pagi. Assallammuaalaikum”

    Dwisya        : “Ok, Waalaikummussallam” (menutup telfon)

     

    (SCEN 9)

    Dwisya pun menutup teleponnya dan kembali menuju kamarnya untuk memutar musik dan membaca novel, itu adalah kesehariaan Dwisya untuk menghabiskan waktu luangnya. Hari ini Dwisya akan memulai untuk mengikuti Club Mading School. Awalnya bu Chansa akan mengajak Dwisya untuk bergabung ke Club Mading School tapi ternyata Dwisya yang meminta duluan untuk masuk ke dalam club tersebut. Jadi Dwisya langsung diterima di hari itu juga. Ternyata club itu lebih menyenangkan dari apa yang dia fikirkan, Dwisya sangat antusias mengikutinya. Bu Chansa selalu mengajak anak-anaknya untuk bertemu dengan orang-orang yang telah suksess mendahului mereka, seorang penulis terkenal ataupun seorang motivator. Suatu ketika Bu Chansa memberi tau anak-anaknya untuk mengikuti perlombaan Mading se jawa barat, mereka sangat bersemangat untuk mengikutinya. Apakah mereka berhasil memenangkan lomba tersebut? Ikuti di...

    Bu Chansa  : “Semuanya harap mendekat ke sini, ada yang ibu s1aikan”

    Dwisya        : “Ada apa bu?”

    Bu Chansa  : “Ibu kan sudah pernah bilang, kita akan  mengikuti lomba Mading antar sekolah se   jawa barat. Kalian tidak perlu khawatir kalian harus semangat! Kalah menang itu bukan masalah, yang penting usaha dan semangat kalian yang sungguh-sungguh pasti bisa!”

    Dwisya        : “Iyaa bu, kita yakin kalau kita semangat dan sungguh-sungguh kita pasti bisa menang”

    Bu Chansa  : “Oke anak-anak, kita sambung besok. Hari ini sudah selesai kalian boleh pulang, kecuali denganmu Dwisya ibu ingin berbicara denganmu.” (Member Mading School meninggalkan ruangan dan memberikan salam kecuali dengan Dwisya).

    Dwisya        : “Ada apa bu?”

    Bu Chansa  : “Ibu senang sekali kalau ternyata Dwisya tertarik dengan Mading School ini, tapi ibu ingin tau dulu apakah kamu sungguh-sungguh mengikuti ini dan apa alasan kamu ingin masuk ke Mading School?”

    Dwisya        : “Alasan saya masuk ke Mading School ini adalah saya ingin memperdalam kreativitas saya dalam menulis, karena selama ini saya tidak tau potensi apa yang saya miliki, dalam hati terkecil saya yakin kalau setiap insan manusia itu pasti memiliki potensi, saya berusaha untuk mencari potensi saya yang terpendam selama ini, berbagai kegiatan saya coba tapi tidak sesuai dengan apa yang dihahrapkan. Semenjak SD saya selalu menceritakn kembai apa yang telah terjadi di hari itu kepada sahabat ‘bisuku’. Beberapa buku penuh dengan ceritaku dan di sana aku berfikir ternyata ini  potensi diriku. Saya mempunyai skill dalam menulis akhirnya berkat dukungan ke 3 sahabat saya, saya semakin yakin untuk menulis dan mengikuti Mading School ini”

    Bu Chansa  : “Sangat menarik, Ibu menghargai usahamu dan ibu berharap semoga kamu bisa mencapai apa yang kamu cita-citakan. Ngomong-ngomong tentang penulis ibu punya tips untuk menjadi seorang penulis “

    Dwisya        : “Oya? Tipsnya bagaimana bu, kasih tau dong bu”

    Bu Chansa  : “ Ok, setiap kamu menulis harus dengan niat yang kuat dan hati yang tulus dan jika naskah nya sudah selesai kamu cetak naskahya, tapi jika ingin dikirim ke redaksi atau majalah-majalah sebaiknya simpan dulu naskah tersebut di dalam laci belajarmu selama 1 minggu. Setelah 1 minggu kamu baca naskah itu dengan teliti dan perbaiki jika ada yang kurang pas atau kurang tepat”

    Dwisya        : ”Pantesan bu, Waktu SD saya pernah menulis sebuah naskah novel dan mengerimkannya ke salah satu majalah anak tapi saya malah mendapat surat penolakan, nah di sana hati saya malah ciut dan berhenti mengembangkannya.”

    Bu Chansa  : “Wah awal yang baik itu Dwisya, kamu sudah berani untuk mengirimkannya ke majalah, masalah surat penolakan itu sudah biasa. Kamu tau penulis-penulis yang sekarang sudah melebihi kita pastinya dulu dia menerima beribu-ribu surat penolakan bahkan s1ai ada salah satu penulis yang mengoleksi surat-surat penolakannya.”

    Dwisya        : “Masa iya sih bu? Hmm.. Kebiasaan jelekku yang selalu takut mencoba dan mudah putus asa itu yang membuat aku menjadi terhambat untuk bisa berprestasi”

    Bu Chansa  : “Berubahlah, itu mudah sayang dari hal terkecil saja dulu, lalu memulainya harus dari diri sendiri artinya atas kemauan sendiri bukan dari orang lain dan mulailah dari sekarang. Insya Allah jika Allah mengizinkan kamu pasti bisa menghilangkan sifat buruk mu itu”

    Dwisya        : “Iyaa bu, Dwisya mengerti. Terimakasih banyak tips nya”

    Bu Chansa  : “Iya sama-sama sayang, sekarang kamu boleh pulang”

    Dwisya        : “oke bu, Dwisya pamit pulang dulu ya. Assalammua’alaikum”

    Bu Chansa  : “ Wa’alaikummussallam.. Hati-Hati”

    Dwisya pun pulang, setibanya di rumah Dwisya mendekati meja belajarnya dan menyalakan Laptopnya dengan perlahan, entah datang dari mana sebuah ide itu langsung mengh1iri imajinasinya, tanpa tunggu lama dia menuangkannya semua idenya kedalam tulisannya. 2 minggu sudah dia habiskan untuk menyelesaikan novelnya, h1ir setiap malam dia tertidur di atas meja belajarnya, walaupun begitu dia tidak lupa dengan kewajibannya sebagai pelajar, dia tetap mengikuti pelajaran dengan baik. Dia begitu sungguh-sungguh dan cerdas dalam membagi waktunya. Dia mengikuti tips dari bu Chansa, dan ternyata benar banyak hal yang harus dia koreksi, dia pun mencetak hasil tulisannya, dia sangat senang tapi dia tidak yakin untuk mengirimkannya kepada redaksi majalah, akhirnya dia memutuskan untuk dibaca sendiri. Di sekolah dia membaca novel hasil buatannya tiba-tiba teman sekelasnya mengh1iri dia.

    Syaraha       : “Waw keren banget, novel baru ya.. lihat dong

    Dwisya        : “Boleh, baca aja” (memberikannya)

    Syaraha       : “Thankyou”

    Dwisya        : “Suka sama ceritanya?” (Dwisya gugup)

    Syaraha       : “Sya, kamu yang buat novel ini?” (terkejut)

    Dwisya        : “Hmmm.. Iya aku yang membuatnya”

    Syaraha       : “Ini keren lho.. aku beli yaa, please, please”

    Dwisya        : “Aku gak niat untuk menjualnya”

    Syaraha       : “Ayo lah aku beli ok, kalau yang lain tau pasti banyak yang beli lumayankan, sayang lho hasilnya gak di bagi-bagi”

    Dwisya        : “Hmm.. benar juga sih, kalau ragu kirim ke redaksi, aku bisa bagiin ini ketemen sekolah”

    Syaraha       : “Siip.. Aku bantu promosi deh”

    Dwisya        : “whahha, ada-ada aja nih kamu”

    Dwisya pun memutuskan untuk mencetak lebih banyak, dan untuk membaginya kepada teman-temannya.. Alangkah mengejutkan Novel yang dia cetak habis ludes, dan pembacanya pun senang dengan hasil karya Dwisya. Dua hari kemudian, Dwisya tiba-tiba di panggil oleh kepala sekolah dan Bu Chansa. Dwisya begitu gugup karena dia membagikan novel hasil buatannya kepada teman-temannya.. apa yang terjadi.. Ikuti perjalanannya di………

    Dwisya        : “Assalammuaalaikum (Sambil mengetuk pintu ruang kepala sekolah yang sudah terbuka)”

    Kepsek        : “Wa’alaikummussalam, Dwisya ya.. silahkan masuk”

    Dwisya        : (Dengan gugup Dwisya pun masuk dan duduk di depan Kepsek dan bu Chansa)

    Kepsek        : “Dwisya, kamu tau apa alasan kamu di undang ke ruangan ini”

    Dwisya        : “hmmm.. Tidak tahu pak” (Dwisya menunduk dan suaranya begitu  lembut)

    Kepsek        : “Kamu taukan aturan sekolah kita”

    Dwisya        : “Maaa’afkan saya pak, saya tidak bermaksud berjualan tapi teman-teman saya yang menginginkannya. Sebenernya saya ragu, tapi mereka memaksa saya agar mencetak novel itu lebih banyak.”

    Kepsek        : “Baiklah silahkan baca surat ini (memberikan sebuah selembaran yang di lapisi 1lop)”

    Dwisya        : (Menerimanya dan membuka surat itu dengan perlahan, membaca dengan teliti dan sangat hati-hati, tiba-tiba wajahnya yang begitu kaget dan tidak menyangka tanpa disadari meneteskan air mata).

    Kepsek        : “Kamu tau apa maksud dari surat itu Dwisya?”

    Bu Chansa  : “Selamat sayang, kamu berhasil nak. Karyamu itu dimuat dalam sebuah novel yang resmi”

    Dwisya        : “(membuang nafas perlahan) Subhannallah, apakah ini mimpi bu”

    Bu Chansa  : “Tidak sayang, ini berkat kesungguhan dan keseriusanmu. Ibu mendengar banyak anak yang membaca novel yang sama, karena penasaran akhirnya ibu meminjam dari salah satu temanmu dan ibu sangat senang sekali dan bangga ketika membacanya, ibu pun mengirimkannya ke redaksi dan Alhamdulillah novel mu akan di muat minnggu depan”

    Dwisya        : “Subhannallah, terimaksih banyak bu, terimakasih banyak pak”

    Kepsek        : “Bapak turut bangga dan sangat-sangat berterimakasih kepadamu, karena kamu telah mengharumkan nama sekolah ini”

    Dwisya        : “Ini berkat sahabat saya dan terutama Bu chansa yang banyak membantu saya, terimakasih bu, ibu sudah mewujudkan mimpiku”

    Bu Chansa  : “Sama-sama sayang, kesuksessan ini bukan karena ibu, tapi karena semangat dan keseriusanmu”

    Kepsek        : “Selamat ya Dwisya, terus kembangkan potensimu jangan mudah putus asa dan selalu berusaha dan berdo’a, bersyukurlah kepada Allah Dwisya, berkat kasih sayangnya mimpimu menjadi kenyataan, Bapak bangga sama kamu. Sekarang kamu boleh meninggalkan ruangan ini”

    Dwisya        : “Baiklah pak, terimakasih banyak. Assalammuaalaikum”

    Kepsek &1; Bu Chansa : Waalaikummussalam”

    (di depan ruang guru)

    Syaqira        : “Dwisya, apa yang terjadi?” (dengan panik)

    Dwisya        : “Kalian masih ingat sama novel yang aku buat selama 2 minggu itu”

    Syirha         : “Iya, ada apa emang?”

    Dwisya        : “Al-hamdulillah semuanya suka sama novelku, dan yang lebih mengejutkannya lagi Bu Chansa membacanya dan mengirimkannya ke redaksi, tapii…” (Dwisya menahan perkataannya dan memberikan surat yang telah ia baca lagi kepada sahabatnya dan mereka membacanya dengan serius dan hati-hati)”

    Annisa        : “Subhannallah Dwisya, apakah ini kenyataan”

    Dwisya        : “Awalnya aku tidak menyangka, tapi inilah kenyataannya”
    Annisa        : “Selamat ya guys! Kamu keren, kamu telah menemukan potensi kamu!” (Dengan bangga dan penuh semangat).”

    Syaqira        : “Hufftt, Kita panik Sya ngedenger kamu masuk ke ruang Kepsek, tapi ternyata bukan seperti yang ku duga.. Selamat ya Dwisya, kamu emang the best gril! Aku turut senang mendengarnya”

    Syirha         : “Selamat ya Dwisya, akhirnya kamu berhasil, kamu telah menjadi bintang di sekolah ini, jangan puas dulu terus kembangkan potensimu agar menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik” (dengan penuh bangga).

    Dwisya        : “A