Konsep Boarding School

  • Akhri. R (Penulis)
  • Diterbitkan pada :2015-06-13 17:00:00 - Kategori : BERITA

    Konsep Boarding School

    Sekolah berbasis boarding school berfungsi dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan bangsa. Selain itu, boarding school dapat mengantisipasi pergaulan bebas, dan d1ak perkembangan teknologi yang berpengaruh pada aspek kehidupan.

    Pendidikan berbasis karakter digalakkan oleh pemerintah dalam rangka membentuk generasi penerus yang dapat diandalkan. Nilai-nilai karakter seperti sikap, perilaku, motivasi, keter1ilan mulai ditanamkan pada setiap pembelajaran. Kenapa dipilih boarding school, karena saat ini kebanyakan anak-anak sudah terpengaruh dengan perkembangan teknologi. Sebut saja internet lewat jejaring sosialnya, jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, game online, dan sebagainya. Menjadikan remaja sebagai korban utama, tentunya remaja dengan kelabilannya dan emosinya yang belum terkendali akan menjadi mangsa empuk masalah pergaulan.

    Budaya kebaratan yang menjunjung tinggi liberalisme beradaptasi dengan budaya Indonesia yang berideologi kesopanan. Sontak saja, perilaku kebarat-baratan seperti pergaulan bebas mulai menjamur lewat agen sejuta ummat, internet. Penculikan gadis di bawah umur akibat perkenalannya dengan teman barunya di facebook sudah tidak menjadi berita asing lagi. Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan menjadi tanpa batas, tak terkendali, seolah-olah tak bisa ditanggulangi kembali.

    Masih ada harapan untuk menaikkan citra bangsa yang telah terjun payung ini. Kecerdasan Emosional, Sosial dan Spiritual dalam kehidupan diperlukan 80 persen, sementara kecerdasan Intelektual hanyalah 20 persen saja, apabila kita mengacu pada nilai-nilai karakter. Yang kita perlukan sat ini adalah kerja nyata dari program pendidikan berkarakter. Sedangkan karakter yang paling mulia adalah dengan cara mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.

    Boleh dikatakan masih belum banyak sekolah yang dengan kedisiplinan tinggi menuntut peserta didiknya untuk benar-benar mengamalkan ajaran agamanya, selebihnya adalah pondok pesantren atau sekolah berasrama. Sekolah berasrama khususnya sekolah Islam mungkin dapat menjadi solusi pemecahan masalah besar ini. Ditinjau dari segi pembentukan karakter anak didik yang diusung ternyata m1u melangsungkan aksi-aksi nyata, aspek-aspek seperti kemandirian, tanggungjawab dan kedisiplinan.

    Dalam dunia pendidikan, mejadi pilar pembentukan karakter telah disusung oleh sebagian sekolah berasrama (boarding school) jauh sebelum pendidikan karakter digalakkan oleh pemerintah. Boarding school m1u menjaga generasi muda dari rezim liberalisme negatif yang sekarang ini telah beradaptasi dengan adat Indonesia yang menonjolkan sisi sopan santun. Boarding school yang menerapkan sistem kedisiplinan, kemandirian dan tanggungjawab, ternyata punya andil besar dalam pembentukan karakter, terbukti dengan adanya lulusan-lulusan yang mengikuti program seperti ini terlihat mempunyai karakter yang lebih unggul dalam segi agama daripada sekolah lainnya. Hal ini dikhususkan pada sekolah Islam dimana pembentukan pribadi islaminya sangat ditekankan.

    Penerapan hukum Islam secara disiplin dan aktivitas kehidupan yang bersumber dari Al-Qur’an mempunyai nilai plus tersendiri yang tidak dimiliki oleh sekolah pada umumnya. Aktivitas keagamaan seperti sholat sunnah, hafalan Al-Qur’an, Qiroatul Qur’an, dapat mempengaruhi kepribadian siswa. Dalam sistem Islamic Boarding School, masalah-masalah besar seperti pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan dapat diminimalisir. Salahsatunya adalah dengan adanya pemisahan asrama dan kelas antara putra dan putri. Hal ini tidak hanya bermanfaat dalam menjaga batasan pergaulan namun juga memberi kenyamanan bagi para remaja yang tengah labil emosinya.

    Yang menjadi permasalahan saat ini antara lain, sejauh mana orang tua siswa/i dan siswa/i itu sendiri dapat mengikuti aturan sekolah yang diciptakan untuk melahirkan generasi penerus yang mempunyai karakter, berdisiplin tinggi, mandiri, pintar dan berakhlakul karimah, apabila sifat-sifat anak didik yang sebelumnya sudah terbiasa dengan kehidupan rumah yang antara lain biasa dimanja dan selalu memenuhi apa yang diinginkan oleh anak, tidak diberikan motivasi kearah pembentukan karakter itu. Jadi jelas peranan pendidikpun sangat memerlukan kerjasama sekaligus peranserta orangtua anak didik dalam menuju cita-cita pendidikan berkarakter dan berakhlakul karimah.

            Wallahu a’lam bis shawab.     

     

    H. Bambang Zainal Arifien

    Kepala SMP Islam Cendekia Cianjur.